Jumat, 07 Desember 2007

Melihat Sekilas Pemikiran Anthony Reid

“Revitalizer dan Borrowers”:



Pada akhir abad ke-19 kerajaan-kerajaan di Asia Tenggara mengalami kemunduran. Mereka dihempaskan oleh kekuatan militer Barat. Sementara lainnya, menghadapi pilihan sama buruknya, harus bersikap akomodatif terhadap kekuatan Barat. Dengan kata lain, mereka sama-sama dijajah. Maka pada akhirnya warisan sejarah yang muncul pada masa kini adalah, khususnya di Indonesia, narasi tentang kekalahan dan keterpurukan di bawah dominasi Barat

Lepas dari pandangan-pandangan post-kolonialis di masa kini, dan pandangan klasik dari van Leur bahwa sejarah Indonesia, juga Asia Tenggara, perlu dilihat dalam sudut pandang masyarakat asli sendiri, namun toh narasi sejarah akan keterpurukan tetap berkecamuk. Di Indonesia, narasi sejarah yang resmi senantiasa menceritakan kisah hebat para martir melawan Belanda. Namun, narasi ini kadang sulit dipahami karena makin menjelaskan akan kekalahan dan keterpurukan. Narasi ini malah menimbulkan sikap tak peduli di kalangan muda Indonesia—generasi yang lahir pada era 1980-an—akan sejarah Indonesia. Selain itu, di kalangan generasi baru yang banyak membaca komik sejarah Jepang kadang muncul pertanyaan mengapa narasi kekalahan itu selalu diceritakan, dan mengapa elit dan penguasa kerajaan di Asia Tenggara pada masa itu tidak melakukan kebijakan seperti Restorasi Meiji di Jepang. Bagaimana narasi sejarah Indonesia seandainya, misalnya, Pangeran Diponegoro tidak memutuskan perang melawan Belanda namun melakukan pilihan cerdik dengan mereorganisasi keraton Jogjakarta dan mengirimkan para pengikutnya ke Negeri Belanda untuk melakukan studi pemerintahan, sains dan teknologi, dan militer di Negeri Belanda. Sayangnya, ini hanyalah khayalan dan tulisan ini tidak membahas hal tersebut. Tulisan ini berusaha melihat sekilas bagaimana memahami narasi kekalahan dan keterpurukan itu.

***

Anthony Reid memberikan suatu pendekatan kritis melihat kekalahan negeri-negeri Asia Tenggara, yaitu dengan melihat tanggapan-tanggapan intelektual masa itu. Ia memapaparkan dua pendekatan; Revitalizer (pembaharu) dan borrowers (peminjam). Revitalizer adalah para pembaharu, yaitu kalangan elite yang cenderung melihat masalah dari sudut pandang moral dan agama. Mereka cenderung memberi solusi atas kekalahan yang dialami negeri mereka berupa ketataan yang sungguh-sungguh pada norma-norma yang sudah mapan. Borrowers adalah para peminjam, yaitu kalangan elite yang memandang masalah keterpurukan dan kekalahan adalah semata-mata pada soal teknis. Mereka memberikan solusinya pada usaha untuk mempelajari teknik-teknik Barat.

Reid memaparkan beberapa pandangan intelektual kalangan revitalizer dalam kasus kekalahan Melaka menghadapi invasi Portugis (dalam Sejarah Melayu), kekalahan Makasar atas serangan VOC (dalam Sja’ir Perang Mengkasar), kekalahan kerajaan Aceh dalam Perang Aceh (dalam Hikayat Perang Sabil), kekalahan orang-orang Jawa dalam Perang Jawa dalam milleniarisme (dalam ramalan Jayabaya).

Dalam kasus kekalahan Makassar Reid menelaah tanggapan akan kekalahan itu dalam Sja’ir Perang Mengkasar. Syair ini adalah sebuah epos pertempuran dibuat penulis istana Makasar satu atau dua tahun setelah kejadian. Epos ini mengakui bahwa orang Makasar memang kalah. Namun, epos ini menyuarakan argumentasi kekalahan mereka lebih disebabkan pada kelaparan dan bantuan orang-orang Bugis kepada Belanda. Epos itu menyatakan bahwa ”Setan Belanda” tidak memainkan peran besar dalam perang tersebut.

Dalam kasus kekalahan Malaka Reid menelaah tanggapan akan kekalahan itu pada Sejarah Melayu. Sejarah Melayu adalah kronik istana Melaka/Johor yang sangat rinci. Alasan utama mengapa kronik itu dikarang atau seseorang memerintahkan untuk menulis ulang pada awal abad ke-16 adalah kebutuhan untuk menjelaskan kerugian tak terkira akibat jatuhnya ibukota dinasti Melaka ke tangan Portugis. Narasi Sejarah Melayu memang menyebut bola-bola meriam Portugis berjatuhan bagaikan hujan. Namun penjelasan riil atas kekalahan itu bukan dari teknologi persenjataan Portugis, namun dari dalam. Yakni, bahwa Melaka telah gagal mempertahankan aturan-aturan dasar kerajaan. Yakni, jika penguasa menghina rakyat tanpa alasan yang jelas, maka mereka tidak akan lagi terikat dengan sumpah setia mereka. Sultan Mahmud penguasa yang menyebabkan Melaka jatuh, dinasihati ayahnya saat menanti ajal,”Jika engkau menghukum mati mereka (rakyat Melaka) sedangkan mereka tidak melakukan kesalahan, maka kerajaanmu akan terbawa binasa. Hukuman berat mendera Melaka menyusul kejahatan Mahmud melanggar dasar kontraktual kerajaan yaitu membunuh bendahara-nya (menteri utama) yang setia, SriMaharaja.

Menurut Reid, perspektif dua teks melayu itu dalam memandang kekalahan mereka masih ditafsirkan dalam konteks lokal. Sudut pandang dari kedua teks akan sama jika Melaka jatuh ke tangan Siam atau Makassar jatuh ke tangan Bugis. Dengan kata lain, serangan terburuk yang dilakukan oleh orang-orang Eropa masih ditafsirkan dalam sudut pandang lokal.

Dalam kasus Perang Aceh, menurut Reid, pada mulanya para elite pejuang Aceh sangat percaya diri. Mereka sangat yakin bahwa mereka akan menang melawan Belanda. Dengan bersandar pada tafsiran agama, mereka sangat yakin bahwa orang-orang kafir Belanda dapat dikalahkan. Namun ketika, pada tahun 1890-an, posisi mereka makin terpojok menuju kekalahan, perjuangan mirip dengan tindakan bunuh diri pun dilakukan. Dalam analisis Reid, para ulama Aceh pada masa ini mulai menanggalkan pandangan bahwa orang beriman (Islam) akan menang memperoleh kemenangan di dunia dan beralih pada gambaran keuntungan di akhirat dengan pahala lebih besar. Pandangan ini terekam jelas dalam Hikayat Perang Sabil. Hikayat yang mengilhami rakyat Aceh mati sahid melawan Belanda.

Namun ketika kemenangan makin mustahil sebagian para elit pejuang Aceh memilih menyerah kepada Belanda. Para elit yang menyerah ini memberikan alasan intelektual kepada para pejuang Aceh yang masih bertahan di perbukitan bahwa orang Islam di mana-mana telah dikalahkan dan dihina karena dunia sedang menuju akhir zaman.

Dalam Kasus Jawa, kekalahan dan keterpurukan yang dialami para elit memunculkan Mileniarisme. Menurut Reid, ada perbedaan mileniarisme sebelum abad ke-19 dan sesudah abad ke-19 terutama setelah berakhirnya Perang Diponegoro. Mileniarisme sebelum abad ke-19 cenderung memusatkan perhatian pada kemunculan seorang penguasa atau dinasti baru yang akan mempersatukan dan memperkuat Jawa. Selain itu, mileniarisme di masa ini masih menganggap Belanda sebagai bangsa Barbar yang tidak beradab.

Sebaliknya, usai perang Diponegoro, realitas akan dominasi Asing makin terlihat. Yang lebih pahit lagi, istana-istana Jawa menjalin hubungan akrab dengan Belanda. Ini menyebabkan gerakan milinearisme makin menjauh dari istana dan terfokus pada penyelamat asing yang akan menyelamatkan Jawa yaitu Raja Ngrum (Turki). Selain itu, makin kuatnya cengkraman Belanda yang sukar dipahami kekuatan dan rahasianya menimbulkan tumbuhnya kepercayaan pada penyelamat asing. Mileanarisme paling terkenal adalah ramalan Jayabaya yang meramalkan akan munculnya Ratu Adil. Gerakan-gerakan petani melawan Belanda di Jawa seringkali diilhami oleh ramalan tersebut. Pada pertengan akhir abab ke-19, penyelamat asing yang memperoleh popularitas yang makin besar bukan lagi Turki melainkan bangsa Jepang.
***

Tentang Borrowers, Reid memberikan argumentasi dalam Wacana Reformasi Pemerintahan, modernisasi Pendidikan, Persatuan, dan wacana Marxisme. Namun dalam tulisan ini hanya akan dibahas pandangannya tentang Wacana Reformasi Pemerintahan dan Wacana Marxisme di antara kelompok peminjam.

Pada awal abad ke-20 di dunia melayu muncul kelompok intelektual yang mengkritik penguasa-penguasa Melayu yang kalah dan terkooptasi oleh orang-orang Barat. Para pengkritik ini bersifat praktis, kosmopolit, islamis, dan keras. Contoh terkenal adalah kelompok intelektual yang berhimpun di majalah reformis Islam Al-Imam. Majalah ini sering mengecam keras penguasa-penguasa Melayu sebagai benih dari segala kejahatan dan penyebab segala kesusahan, pemboros, dan biang keladi kedunguan. Menurut Reid para pengkritisi ini sering membandingkan antara pemerintahan kerajaan di negeri melayu dengan efisiensi dan otokrasi pemerintahan kolonial, dan bukan melihat sistem dan tata cara parlementer yang sukar mereka pahami.

Tokoh utama dari kalangan peminjam paling kritis di antara penulis melayu adalah Munshi Abdullah. Ia punya kedekatan khusus dan kegandrungan luar biasa dengan pemerintah Inggris. Ia memperhatikan dengan cermat pemerintahan Inggris. Dalam pandangannya, kelaliman dan kesewenang-wenangan raja-raja Melayu adalah penyebab utama keterbelakangan dan keterpurukan negeri-negeri mereka. Dalam penutup laporan perjalanannya yang sangat kritis ke pantai timur Malaya [ada 1837-1838, ia menguraikan kekurangan-kekurangan pemerintahan di Kerajaan Melayu dibandingkan pemerintahan kolonial Inggris di Singapura, yaitu :

1. Tidak ada jaminan keamanan di negeri-negeri Melayu terhadap harta benda, jiwa atau apapun. Sementara di negeri-negeri Inggris ada jaminan keamanan dalam bentuk perlindungan dari segala mara bahaya.
2. Kedamaian di negara Inggris ada namun di negeri-negeri Melayu tidak ada
3. Hamba-hamba Raja di negeri-negeri Melayu dapat melakukan pelanggaran sesuka hati terhadap makhluk ciptakan Tuhan. Karena, jika satu hamba Raja dibunuh maka tujuh orang mati. Sedangkan di negeri-negeri Inggris tidak demikian, jika anak seorang penguasa kulit putih atau penguasa itu sendiri membunuh seseorang tanpa dasar hukum dia akan dijatuhi hukuman mati.
4. Di negeri-negeri Melayu terlalu banyak orang membuang waktu siang dan malam hari dalam kemalasan. Sementara di negeri-negeri Inggris banyak orang bekerja keras dan didorong bekerja keras. Di negeri-negeri melayu punya adat yang berbeda, jika seseorang menjadi kaya dengan bergelimang harta dan hidup senang, maka berbagai macam tuduhan dilontarkan kepadanya, sampai dia hancur, hartanya habis, dan barangkakali nyawanya direnggut.


Namun, sekali lagi dalam pandangan Reid, sedikit sekali orang-orang Asia Tenggara yang bisa melihat secara langsung jalannya demokrasi parlementer di Eropa. Dan lebih sedikit lagi yang bisa memahami bahwa parlemen adalah kunci kekuasaan Eropa. Satu kelompok yang bisa memahami itu adalah segelintir bangsawan berpendidikan Eropa. Mereka menasihati Raja Chulalongkorn pada 1886 bahwa Kerajaan Siam bisa bertahan dari tantangan Eropa melalui landasan perubahan konstitusional menuju pemerintahan monarki parlementer. Namun, usaha mereka pun juga kurang berhasil karena Raja masih berkuasa mutlak.

Bagi elit terdidik Asia Tenggara di bawah rezim penjajahan Eropa, yang telah kehilangan kepercayaan pada kemampuan kelas penguasa tradisional, model-model konstitusional Eropa umumnya dipandang jauh dari persoalan riil. Kaum nasionalis bersedia mengumandangkan “Indonesia berparlemen,” atau tanggung jawab kementerian di Birma namun sebagai taktik jangka pendek ketimbang pemecahan riil terhadap masalah dominasi asing. Lebih bermakna dari pada model-model konstitusional justru populisme revolusioner yang melibatkan massa. Karena rakyat jajahan tidak memiliki sumber kekuatan kecuali jumlah orang, maka identifikasi mereka dengan massa tidak dapat dielakkan.


Menurut Reid Kaum Marxis atau partai komunis di Asia Tengara adalah peminjam di Asia Tenggara yang paling bersemangat, punya semangat internasional, dan tidak sabar terhadap nilai-nilai dan praktik-praktik lama yang sudah usang. Mereka giat mengembangkan program-program ekonomi politik, dan pendidikan. Memang, rumusan dasar marxist khususnya dari pemikiran Lenin Imperialisme: Last Stage of Capitalisme (Imperialisme: Tahap Akhir dari Kapitalisme) berpengaruh luas dalam lingkaran elit Asia Tenggara khususnya anggota partai komunis, intelektual yang berminat pada watak kapitalisme, dan pendukung revolusi sosial. Daya tarik Marxisme terletak pada fakta bahwa paham ini dapat digunakan untuk menjawab dilema keterpurukan dan kekalahan mereka atas bangsa Asing dan janji bahwa kekuatan Barat bisa dikalahkan. Mereka mengikuti dan berusaha menjalankan tiga keyakinan:

1. Keyakinan bahwa masalah pengaruh Barat bisa dan akan dikalahkan.
2. Tuntutan regenerasi moral
3. Rasa persatuan dan Persaudaraan yang dipancarkan.

***
Sebagai penutup adalah bermanfaat jika narasi masa lalu negeri kita dibahas dengan cara yang ditawarkan oleh Anthony Reid—revitalizer dan borrower. Meskipun keduanya punya perbedaan, namun sudut pandang yang dipaparkan cukup kritis dalam melihat pemikiran kalangan intelektual dan elit di masa lalu yang mengalami keterpurukan. Lagi pula, sedikit sekali narasi kemenangan dalam narasi sejarah Indonesia. Dengan kata lain, beban sejarah akan kekalahan dan keterpurukan sesungguhnya masih terekam kuat di kalangan elit dan intelektual generasi selanjutnya. Rasa inferioritas akan kekuatan Barat masih nampak terutama dalam bidang ilmu pengetahuan teknologi dan ekonomi. Di masa kini pun semangat dalam bentuk yang sama seperti dilakukan oleh kaum revitalizer di masa lalu muncul kembali. Misalnya, munculnya partai-partai politik berbasis agama yang sangat yakin dengan nilai-nilai moral religius dalam menawarkan solusi akan keterpurukan negeri mereka. Barangkali memang terasa pedih khususnya bagi generasi masa kini memahami sejarah negeri mereka sendiri yang senantiasa kalah dan dikalahkan. Maka, wajar jika mereka begitu acuh dengan sejarah mereka karena tidak ada yang patut dibanggakan dari sejarah kekalahan itu. Namun akan lebih celaka bila sejarah tentang kekalahan dan keterpurukan itu tidak ditelaah generasi berikutnya.

Kamis, 29 November 2007

Mengapa Pangeran Diponegoro tidak tertarik untuk Kuliah di Univeritas Leiden

Dalam narasi sejarah Indonesia khususnya bab tentang peperangan antara Belanda dan kerajaan-kerajaan nusantara, selalu timbul pertanyaan "kotor" dalam otak saya. Jelas, bahwa dalam setiap peperangan dengan orang-orang Belanda penguasa-penguasa kerajaan tradisional selalu dihempaskan alias kalah. Narasi tentang Pengepungan Batavia misalnya, yang ditelah dengan apik oleh de Graaf, terungkap bagaimana kegagalan pahit dalam mengepung Kota batavia yang hanya dijaga oleh segolongan kecil pasukan VOC. Mengapa gagal? banyak jawaban-jawaban historis yang diberikan de Graff. Namun yang jelas, pengepungan itu gagal.

Selama beberapa tahun menikmati kuliah sejarah, saya kadang berfikir bagaimana sih pandangan dari Sultan Agung dan para elite Mataram Islam tentang orang-orang Belanda; mencakup persenjataan, tata manajerial dalam organisasi, dan budaya mereka. Mengapa dalam pandangan elite pada waktu itu, bukan hanya sultan agung namun penguasa-penguasa kerajaan nusantara lainnya, tidak terbersit ide satu pun untuk melakukan kunjungan resmi ke Eropa, untuk meneliti dengan mendalam siapakah orang Belanda ini.

Bahkan, ketika membaca narasi sejarah Pangeran dan Perang Diponegoro yang sangat masyhur itu--yang peristiwanya berselang 200 tahun dari masa Sultan Agung--melalui teks-teks sejarah yang ditulis oleh Peter Carey, saya kadang menanyakan hal yang sama. Bagaimana pandangan Pangeran Diponegoro terhadap adat-istiadat dan sistem manajemen dan organisasi orang-orang Belanda pada waktu itu? mengapa sang pangeran tidak tertarik untuk menelaah dengan mendalam kehidupan dan ilmu pengetahuan Belanda.


Jelas, nenek moyang kita telah berhubungan lama dengan orang-orang Belanda, dan mereka tahu betul bagaimana dahsyatnya senapan dan meriam-meriam Belanda. Mereka juga tahu betul betapa kuatnya sistem organisasi dan manajemen mereka. Namun, mengapa, atau saya belum menemukan saja yah!, nenek moyang kita tidak satu pun yang membuat catatan dan penelitian dengan mendalam budaya, sistem organisasi, dan teknologi Belanda. Tak usah jauh-jauhlah, mengapa mereka tidak tertarik belajar Bahasa Belanda. Siapa ini orang Belanda? mengapa mereka bisa sampai ke negeri kita.


Dan jawabannya, entahlah, karena saya sedang berulang-ulang membaca pendapat Anthony Reid tentang kelompok Revitalizer (Pembaharu) dan Borrower (peminjam) di kalangan intelektual Asia Tenggara, dalam menghadapi cengkraman kuat bangsa-bangsa eropa atas kerajaan-kerajaan tradisional Asia Tenggara.

Jalur rel kereta api: peradaban agung Belanda di Jawa


Setiap kali menumpang kereta api dari Kota kecil Blitar ke Yogyakarta
narasi sejarah senantiasa hadir di kepala saya.
Bahkan, narasi ini "telah" hadir ketika saya menginjakkan kaki di stasiun itu.

Di stasiun itu, saya senantiasa melihat langit-langit stasiun,
tiang-tiang besi penyangga, dan kursi panjang tua tempat menunggu kereta.
Saya juga memperhatikan jam, dan gerak-gerik tangan dan mendengar peluit morse
dari pegawai stasiun ketika kereta akan berangkat.
Dalam benak saya senantiasa ada andaian,
"andaikan saya hidup di zaman ketika stasiun ini baru dibangun,
ketika rel-rel kereta api di Jawa baru diletakkan."
Bahkan, saya senantiasa mengibul, "soekarno pasti hadir,
ketika ia berangkat ke surabaya dan bandung, pada waktu ia masih menempuh
pendidikan di HBS di surabaya dan di HTS di bandung."


Andaian lainnya adalah soal "keteraturan dan kedisiplinan". Saya senantiasa muak (MUAK)
dengan ketidakteraturan, lantai yang kotor, dan sampah yang berserakan
di stasiun bersejarah itu. Saya senantiasa membayangkan seandainya
stasiun itu bersih. Seandainya orang-orang Belanda masih menjajah, barangkali
stasiun ini jauh lebih bersih. Lebih jauh, seandainya di negeri ada politik maha keras
tentang "kebersihan dan keteraturan". Toh, itu hanya khalayan.


***
Setiap menumpang kereta api, narasi sejarah selalu menemani saya.
Misalnya, kapan keputusan membangun jalur kereta api dibuat?
mengapa keputusan itu muncul? bagaimana proses-proses pembangunan jalur rel kereta api
terjadi? Kadang, saya membayangkan hidup di masa kolonial sebagai siswa HBS
dan anak pribumi dari keluarga berada.

Sayang, narasi sejarah jalur rel kereta api tidak pernah dibahas,
dalam narasi sejarah di sekolah. Padahal, jalur rel kereta api adalah
monumen peradaban orang-orang Belanda di negeri ini yang barangkali
setara dengan candi borobudur. Bayangkan, hampir setiap kota di pulau jawa
]terhubung dengan rel kereta api. Mengapa itu tidak muncul dalam narasi
resmi pelajaran sejarah di sekolah. Negara macam apa ini.

***

Lalu, pada tahun 2004, saya dipinjami oleh senior saya di jurusan sejarah, Candra Utama,
buku berjudul Engineers of Happy Land: Technology And Nationalism in a Colony. ]
Pengarangnya adalah Rudolf Mrazek dan penerbitnya adalah Princenton University Press
tahun 2002. Bab pertama buku itu memberikan jawaban tentatif bagi saya.
Mrazek setelah membaca dan menganalisa sumber sejarah, majalah Kopiist, mengatakan bahwa

orang merasakan betapa
menyenangkangkan sekiranya
membangun rel-rel menembus Jawa,
dari kota pelabuhan Surabaya di Timur,
ratusan mil menuju ke arab barat, menuju Batavia,
kota metropolis di tanah jajahan itu.


Dalam buku itu Mrazek juga memberi tahu kepada saya salah seorang aktor sejarah
dalam pembangunan jalur rel kereta api di negeri ini yaitu Dr. Jan Wililem Ijzerman.
Sayang, saya belum bahkan tidak fasih membaca dan berbual dalam bahasa Belanda. Ya Tuhan ALlah .... simalakamaka nasib saya?



Rabu, 28 November 2007

Penjajah: Perusahaan Atau Negara

Seorang teman, mahasiswa antropologi UGM, bercerita ujian skripsinya kepada saya. Skripsinya bertema tentang, barangkali kurang tepat karena saya agak lupa, indentitas dan pakaian modis/perlente di kalangan anak-anak muda Kota Ambon. Skripsinya juga memuat sedikit narasi sejarah khususnya narasi sejarah ambon dan relasi-relasi-nya (orang-0rang Ambon) dengan orang-orang Belanda.

Salah seorang dosen penguji, dosen senior di Antropologi UGM, mengajukan pernyataan, "Apakah singkatan dari VOC?".

Sang teman dengan sangat terkejut kurang mampu menjawab dengan cepat. Meskipun pada akhirnya ia bisa menjawab, yaitu Vereenigde Oostindische Compagnie, namun makian dari sang dosen tetap muncul. Sang dosen memaki, "gimana toh kamu katanya bergaul akrab dengan anak-anak sejarah kok ndak tahu singkatan VOC. Sang dosen memaki dengan kata-kata demikian karena sang teman itu dalam kata pengantarnya mengucapkan terima kasih buat rekan-rekan karib di KSS, kelompok studi sejarah. Suatu kelompok studi dan diskusi yang digagas oleh anak-anak sejarah UGM kelahiran tahun 1980-an awal--dalam istilah keren "generasi baby boomers Indonesia". Terutama Farabi Fakih, salah seorang penggagas utama.

Sang dosen lanjut bertanya, "VOC itu siapa? perusahaan atau negara." Teman saya menjawab, perusahaan. Lalu dengan nada tinggi sang dosen berujar, "lalu mengapa dalam tulisan kamu ini kamu tulis penjajah kita negara dan bangsa Belanda."

Bagi saya sepenggal cerita itu sangat menarik. Satu cerita yang patut dan boleh atau bisa dipen-ting-kan meskipun tidak penting, kelihatannya. Lepas dari literatur mendalam soal VOC, yang jelas negeri kita (bukan negara) pernah dijajah oleh sebuah perusahaan dagang. Dan sepertinya masih berlanjut sampai kini. sebagaimana satu kalimat dalam satu puisi, "Roh-roh Belanda masih bergentayangan di negeri ini..."

*****


Vereenigde Oostindische Compagnie (Perserikatan Perusahaan Hindia Timur) atau VOC, didirikan pada 20 Maret 1602, adalah perusahaan Belanda yang punya monopoli dalam aktivitas perniagaan di Asia. Disebut Hindia Timur karena ada pula VWC yang merupakan perserikatan dagang Hindia Barat. Perusahaan ini dianggap sebagai perusahaan pertama yang mengeluarkan pembagian saham.

Meskipun sebenarnya VOC merupakan sebuah organisasi niaga saja, tetapi organisasi ini istimewa karena didukung oleh negara dan diberi fasilitas-fasilitas yang istimewa. Misalnya, VOC boleh memiliki tentara dan boleh bernegosiasi dengan negara-negara lain. Boleh dikatakan VOC adalah negara dalam negara.

VOC terdiri 6 Bagian (Kamers) di Amsterdam, Middelburg (untuk Zeeland), Enkhuizen, Delft, Hoorn dan Rotterdam. Delegasi dari ruang ini berkumpul sebagai Heeren XVII (XVII Tuan-Tuan, barangkali semacam direktur perusahaan). Kamers menyumbangkan delegasi ke dalam tujuh belas tuan-tuan itu sesuai dengan proporsi modal yang mereka bayarkan; delegasi Amsterdam berjumlah delapan.

dari: wikipedia Indonesia

Selasa, 27 November 2007

Sejarah Indonesia: Kalah, terkalahkan, dan dikalahkan

Setiap paragraf cerita tentang sejarah Indonesia adalah tentang kekalahan. Tak ada kemenangan dalam narasi sejarah Indonesia. Meskipun, setelah muncul negara republik ada usaha untuk memperhalus kekalahan ini dengan memunculkan banyak "pahlawan/martir" yang saleh dan gagah dalam , namun toh mereka tetap kalah.


Sayangnya, tiap-tiap episode dari narasi sejarah yang kalah itu terus diperdengarkan di ruang-ruang kelas di sekolah-sekolah. Alih-alih memberikan "rasa malu" dan kegetiran, narasi sejarah itu malah makin memberikan pembenaran bahwa kita bangsa yang kalah.

Saat mendengarkan Sejarah Indonesia toh tidak rugi andaikan sejenak dibahas ketololan nenek moyang. Misalnya, dalam narasi Perang Diponegoro. Perang ini sangat dahsyat, kurang lebih 200 ribu orang tewas. Lebih menyedihkan, dokumentasi tentang perang dan alasan-alasan munculnya perang ini dalam bahasa belanda, "java oorlog" lima jilid, belum diterjemahkan ke bahasa indonesia sehingga khalayak ramai lebih banyak mendengarkan ketimbang membaca sejarah perang itu. Ada baiknya jika kita tidak melulu terfokus pada perang namun mencari pertanyaan nyleneh. Misalnya, bukannya berperang dengan belanada namun pangeran diponegoro dengan cerdik memohon bantuan Belanda untuk membantu mengirimkan sekelompok pangeran Jogja untuk melakukan studi intelektual ke Eropa, untuk mempelajari teknik-teknik pemerintahan Barat, persenjataan, dan sains modern yang berkembang di Eropa waktu itu.

Mengapa itu tidak terjadi?

Senin, 26 November 2007

WC: Suatu Monumen Sejarah Indonesia

WC merupakan monumen penting dalam sejarah Indonesia. Berbeda dengan Monumen Perjuangan dan Makam Pahlawan, WC jarang dilirik catatan sejarahnya. Padahal, melalui WC kita bisa mengetahui bagaimana konsep higienis dalam buang hajat orang-orang Indonesia di masa silam. Ingat, orang-orang tersebut belum mengenal WC dalam Budaya Barat seperti sekarang. Memang, WC yang dipakai sekarang adalah budaya yang sangat baru dalam arti belum genap seratus tahun.

Akhir abad ke-19, karena pusing menanggulangi penyakit kolera, pemerintah Hindia Belanda (barangkali) memperkenalkan WC jongkok yang higienis kepada masyarakat pribumi. WC yang sederhana namun efisien untuk pribumi. Pun, kebijakan ini kembali dilanjutkan di masa Orde Baru khususnya di desa-desa yang masyarakatnya masih buang hajat di sungai.

Dengan kata lain, dari WC kita banyak tahu dan membuat perbandingan atas konsep higienis dalam otak orang-orang Belanda dan Pribumi.

Pertanyaan2 terkait: Bagaimanakah bentuk WC di Indonesia pada masa sebelum Belanda datang? WC macam apakah yang pertama kali dibuat dan digunakan oleh orang-orang Belanda di Batavia? Apakah di Batavia di masa tempo doeleo banyak terdapat WC Umum?