Kamis, 29 November 2007

Jalur rel kereta api: peradaban agung Belanda di Jawa


Setiap kali menumpang kereta api dari Kota kecil Blitar ke Yogyakarta
narasi sejarah senantiasa hadir di kepala saya.
Bahkan, narasi ini "telah" hadir ketika saya menginjakkan kaki di stasiun itu.

Di stasiun itu, saya senantiasa melihat langit-langit stasiun,
tiang-tiang besi penyangga, dan kursi panjang tua tempat menunggu kereta.
Saya juga memperhatikan jam, dan gerak-gerik tangan dan mendengar peluit morse
dari pegawai stasiun ketika kereta akan berangkat.
Dalam benak saya senantiasa ada andaian,
"andaikan saya hidup di zaman ketika stasiun ini baru dibangun,
ketika rel-rel kereta api di Jawa baru diletakkan."
Bahkan, saya senantiasa mengibul, "soekarno pasti hadir,
ketika ia berangkat ke surabaya dan bandung, pada waktu ia masih menempuh
pendidikan di HBS di surabaya dan di HTS di bandung."


Andaian lainnya adalah soal "keteraturan dan kedisiplinan". Saya senantiasa muak (MUAK)
dengan ketidakteraturan, lantai yang kotor, dan sampah yang berserakan
di stasiun bersejarah itu. Saya senantiasa membayangkan seandainya
stasiun itu bersih. Seandainya orang-orang Belanda masih menjajah, barangkali
stasiun ini jauh lebih bersih. Lebih jauh, seandainya di negeri ada politik maha keras
tentang "kebersihan dan keteraturan". Toh, itu hanya khalayan.


***
Setiap menumpang kereta api, narasi sejarah selalu menemani saya.
Misalnya, kapan keputusan membangun jalur kereta api dibuat?
mengapa keputusan itu muncul? bagaimana proses-proses pembangunan jalur rel kereta api
terjadi? Kadang, saya membayangkan hidup di masa kolonial sebagai siswa HBS
dan anak pribumi dari keluarga berada.

Sayang, narasi sejarah jalur rel kereta api tidak pernah dibahas,
dalam narasi sejarah di sekolah. Padahal, jalur rel kereta api adalah
monumen peradaban orang-orang Belanda di negeri ini yang barangkali
setara dengan candi borobudur. Bayangkan, hampir setiap kota di pulau jawa
]terhubung dengan rel kereta api. Mengapa itu tidak muncul dalam narasi
resmi pelajaran sejarah di sekolah. Negara macam apa ini.

***

Lalu, pada tahun 2004, saya dipinjami oleh senior saya di jurusan sejarah, Candra Utama,
buku berjudul Engineers of Happy Land: Technology And Nationalism in a Colony. ]
Pengarangnya adalah Rudolf Mrazek dan penerbitnya adalah Princenton University Press
tahun 2002. Bab pertama buku itu memberikan jawaban tentatif bagi saya.
Mrazek setelah membaca dan menganalisa sumber sejarah, majalah Kopiist, mengatakan bahwa

orang merasakan betapa
menyenangkangkan sekiranya
membangun rel-rel menembus Jawa,
dari kota pelabuhan Surabaya di Timur,
ratusan mil menuju ke arab barat, menuju Batavia,
kota metropolis di tanah jajahan itu.


Dalam buku itu Mrazek juga memberi tahu kepada saya salah seorang aktor sejarah
dalam pembangunan jalur rel kereta api di negeri ini yaitu Dr. Jan Wililem Ijzerman.
Sayang, saya belum bahkan tidak fasih membaca dan berbual dalam bahasa Belanda. Ya Tuhan ALlah .... simalakamaka nasib saya?



Tidak ada komentar: