Kamis, 29 November 2007

Mengapa Pangeran Diponegoro tidak tertarik untuk Kuliah di Univeritas Leiden

Dalam narasi sejarah Indonesia khususnya bab tentang peperangan antara Belanda dan kerajaan-kerajaan nusantara, selalu timbul pertanyaan "kotor" dalam otak saya. Jelas, bahwa dalam setiap peperangan dengan orang-orang Belanda penguasa-penguasa kerajaan tradisional selalu dihempaskan alias kalah. Narasi tentang Pengepungan Batavia misalnya, yang ditelah dengan apik oleh de Graaf, terungkap bagaimana kegagalan pahit dalam mengepung Kota batavia yang hanya dijaga oleh segolongan kecil pasukan VOC. Mengapa gagal? banyak jawaban-jawaban historis yang diberikan de Graff. Namun yang jelas, pengepungan itu gagal.

Selama beberapa tahun menikmati kuliah sejarah, saya kadang berfikir bagaimana sih pandangan dari Sultan Agung dan para elite Mataram Islam tentang orang-orang Belanda; mencakup persenjataan, tata manajerial dalam organisasi, dan budaya mereka. Mengapa dalam pandangan elite pada waktu itu, bukan hanya sultan agung namun penguasa-penguasa kerajaan nusantara lainnya, tidak terbersit ide satu pun untuk melakukan kunjungan resmi ke Eropa, untuk meneliti dengan mendalam siapakah orang Belanda ini.

Bahkan, ketika membaca narasi sejarah Pangeran dan Perang Diponegoro yang sangat masyhur itu--yang peristiwanya berselang 200 tahun dari masa Sultan Agung--melalui teks-teks sejarah yang ditulis oleh Peter Carey, saya kadang menanyakan hal yang sama. Bagaimana pandangan Pangeran Diponegoro terhadap adat-istiadat dan sistem manajemen dan organisasi orang-orang Belanda pada waktu itu? mengapa sang pangeran tidak tertarik untuk menelaah dengan mendalam kehidupan dan ilmu pengetahuan Belanda.


Jelas, nenek moyang kita telah berhubungan lama dengan orang-orang Belanda, dan mereka tahu betul bagaimana dahsyatnya senapan dan meriam-meriam Belanda. Mereka juga tahu betul betapa kuatnya sistem organisasi dan manajemen mereka. Namun, mengapa, atau saya belum menemukan saja yah!, nenek moyang kita tidak satu pun yang membuat catatan dan penelitian dengan mendalam budaya, sistem organisasi, dan teknologi Belanda. Tak usah jauh-jauhlah, mengapa mereka tidak tertarik belajar Bahasa Belanda. Siapa ini orang Belanda? mengapa mereka bisa sampai ke negeri kita.


Dan jawabannya, entahlah, karena saya sedang berulang-ulang membaca pendapat Anthony Reid tentang kelompok Revitalizer (Pembaharu) dan Borrower (peminjam) di kalangan intelektual Asia Tenggara, dalam menghadapi cengkraman kuat bangsa-bangsa eropa atas kerajaan-kerajaan tradisional Asia Tenggara.

2 komentar:

hakam mengatakan...

tulisan yang sangat payah dAN JELEK SEKALI

AN mengatakan...

sejak kapan orang seperti diponegoro, pangeran lain dan para raja kita memusuhi dan/ menjadi musuh belanda?
di leiden masih menyimpan arsip tentang catatan kedatangan para raja Aceh, Bima, Jawa, dan para duta lainnya di belanda, sekitar abad 18. mereka dijamu di sana, ditunjukkan seperti apa dunia barat. sebelum misalnya, aceh menjadi musuh bebuyutan belanda!
salam, luthfi