Selasa, 27 November 2007

Sejarah Indonesia: Kalah, terkalahkan, dan dikalahkan

Setiap paragraf cerita tentang sejarah Indonesia adalah tentang kekalahan. Tak ada kemenangan dalam narasi sejarah Indonesia. Meskipun, setelah muncul negara republik ada usaha untuk memperhalus kekalahan ini dengan memunculkan banyak "pahlawan/martir" yang saleh dan gagah dalam , namun toh mereka tetap kalah.


Sayangnya, tiap-tiap episode dari narasi sejarah yang kalah itu terus diperdengarkan di ruang-ruang kelas di sekolah-sekolah. Alih-alih memberikan "rasa malu" dan kegetiran, narasi sejarah itu malah makin memberikan pembenaran bahwa kita bangsa yang kalah.

Saat mendengarkan Sejarah Indonesia toh tidak rugi andaikan sejenak dibahas ketololan nenek moyang. Misalnya, dalam narasi Perang Diponegoro. Perang ini sangat dahsyat, kurang lebih 200 ribu orang tewas. Lebih menyedihkan, dokumentasi tentang perang dan alasan-alasan munculnya perang ini dalam bahasa belanda, "java oorlog" lima jilid, belum diterjemahkan ke bahasa indonesia sehingga khalayak ramai lebih banyak mendengarkan ketimbang membaca sejarah perang itu. Ada baiknya jika kita tidak melulu terfokus pada perang namun mencari pertanyaan nyleneh. Misalnya, bukannya berperang dengan belanada namun pangeran diponegoro dengan cerdik memohon bantuan Belanda untuk membantu mengirimkan sekelompok pangeran Jogja untuk melakukan studi intelektual ke Eropa, untuk mempelajari teknik-teknik pemerintahan Barat, persenjataan, dan sains modern yang berkembang di Eropa waktu itu.

Mengapa itu tidak terjadi?

Tidak ada komentar: