Minggu, 15 Agustus 2010

Asal Usul THR Tunjangan Hari Raya

Oleh:

Saifoel Hakam


Hari poeasa di tanah air kita songgoeh sangat chas sekali karena banjak orang jang betoel2 choesoek menjamboetnja.Orang2 jang pada boelan2 sebeloemnja sedikit menoenaikan ibadah, djarang salat soennat, djarang salat tahadjdjoed, djarang beramal, bersedekah, kini moelai siboek2 menoenaikan salat wadjib dan segala matjam salat soennah, radjin terawih, radjin bersedekah, dan bahkan telah menjisihkan anggaran dari pada gadji bowat kasih oeang derma kepada kerabat dan handai2 taoelan dan poelabowat para faqir dan orang2 miskin. Ini semoea dilakoekan bowat melaksanaken amal soleh bowat mentjari ridha dari pada Goesti Allah Ta'ala.


Pada boelan penoeh rachmat ini,sekalian para niagawan dan para pedagang betoel2 mendapatkan laba melimpah nan penoh rachmat. Mereka itoe berlomba2 menaikkan harga dan chal ini poen setjarahoekoem adalah boleh karena aken ada banjak permintaan barang2.

Ini sebagaimana dikataken dalam kitab hoekoem ekonomi bahwasannja penawaran aken naik djikapermintaan begitoe tinggi dan sebaliknja penawaran aken rendah djikalaoepermintaan begitoe sedikit. Maka, pada boelan poeasa ini tak heran djika pedagang sajoer2an dan boeah2an mendapati barang2 mereka habis dibeli bowat hidanganboeka di kala maghrib dan sahoer mendjelang dini hari. Demikian chalnja pedagang pakaian2 djoega mendapat oentoeng besar di boelan penoh rachmat inikerna banjak toean2 dan njonja2 jang ingin badjoe baroe boewat emak, bapak,engkong, dan anak2. Laloe, toean2 jang ponja otto2 oemoem djoega merasaken halsama. Tiket dari pada otto2 mereka aken habis dibeli chalajak ramai jang hendak balik poelang kampoeng. Djawatan Kereta Api milik negara djoega mengalami chaljang sama. Tiket dari pada kereta api amat laris manis, dan banjak sekalisodara2 kita jang rela antri bahkan beli tiket itoe dengan harga selangit biar bisa poelang kampoeng mendjengok keloearga dan poesara-poesara leloehoer.


Namoen di antara itoe semoea jang paling chas pada setiap boelan poeasa, boelan roewah, boelan ramadhan ini adalah adanja toendjangan hari raja jang sering diringkas mendjadi THR jang biasa dikasihkan kepada para pegawai gubermen dan pegawai sarekat oesaha.Toendjangan ini sering menimboelkan keriboetan jang kadang2 menjebabkan boelan ini mendjadi boelan penoh kedjadian2 sedih. Ada satoe kedjadian di mana para pegawai tiadamenerima THR laloe marah2 pada boepati dan djoeragan. Ada poela kedjadian dimana para petinggi negara tiada boleh menerima bingkisan2 dari rekan2 sodagarnamoen mentjari itoe bingkisan dengan semboenji2 dan djika ketahoean oleh persmereka aken marah2 dan menoedoh awak2 pers sebagai pengganggoe privasi, kehidoepan pribadi. Ada poela satoe kedjadian kaoem boeroeh di satoe sarekat oesaha atawa onderneming mogok kerdja kerna tak dikasih THR sama sekali.


Laloe dari manakah sebenarnja idea THR ini montjoel? Sepandjang saja tahoe, dan djika tida salah THR ini moentjoel semasa negeri ini masih berbentoek pemerintahan parlementer di mana kekoeasaan politik dikoeasai oleh parlemen dan dipimpin oleh perdana menteri. Djika tida salah THR moentjoel pertama kali pada masa kabinet perdana menteri Dokter Soekiman Wirjosandjojo dari partaij Masjoemi. Kabinet ini dilantik oleh Jang Moelia PresidenSoekarno, sebagai kepala negara, pada achir boelan April taoen 1951. Salah satoe program kerdja kabinet ini adalah memberikan perhatian choesoes kepada pamong pradja. Kabinet ini memberikan 'toendjangan' moelai dari Rp.125 (waktoe itoe setara dengan US $ 11 dan di masa kini setara dengan Rp.1.100.000) hingga Rp. 200 (US $ 17,5, di masa kini adalah koerang lebihnja Rp.1.750.000) kepada semoea pamong pradja di achir boelan poeasa mendekati hari lebaran. Kabinet ini djoega jang moela-moela memberikan toendjangan beras bowat para pamong pradja pada tiap2 boelan. Tentoe saja, kebidjakan ini menimboelkan heboh besar. Dalam satoe pemogokan massal, tanggal 13 Februari 1952, memprotes pelarangan mogok kerdja jang diperintahkan oleh pengoeasa militer, kaoem boeroeh menoentoet agar mereka semestinja diberi toendjangan hari raja sama seperti para pamong pradja. Namoen pada kedjadian ini protes keras kaoem boereoh tiada dikaboelkan oleh pemerintah dan seperti biasa pengoeasa2 militer poen bertindak amat keras pada mereka.


Laloe pertanjaannja adalah mengapakabinet ini mengasih toendjangan jang tjoekoep besar bowat pamong pradja.Teroes terang sadja, sendiri belon bisa mendjawabnja dengan pasti. Namoen idjinkanlahsaja memberikan pendapat saja sekedarnja. Saja mendoega bahwa kabinet ini jangberasal dari partaj Islam dan dipimpin oleh seorang intelectuil moeslim bekas pemimpinPartaij Islam Indonesia (PII) di masa pendjadjahan, haroes menghadapi kenjataan, dilema, dan tantangan pahit bahwa sebagian besar mesin2 pemerintahdalam arti para pamong pradja adalah berasal dari kaoem prijaji lama. Dari soedoet pandang politiek, mereka ini lebih memberikan ikrar kesetiaan pada Partaij Nasional Indonesia (PNI) katimbang pada partaij2 lain. Oleh kerna itu oentoek mereboet itoe kesetian maka kabinet ini maoe tida maoe haroes memberikan perhatian choesoes bowat mereka. Dan, perhatian choesoes itoe adalah beroepa toendjangan hari radja dan toendjangan beras tiap2 boelan. Denganmemberikan toendjangan ini, maka, kabinet ini ponja harapan bahwa para pamong pradja aken patoeh pada pimpinan kabinet dan achirnja maoe mendjalankan program2dan perintah2 dari kabinet. Boleh dikatakan para pamong pradja di masa kabinet ini songgoh2 senang mendapat itoe toendjangan dan soedi mendjalan program kabinet. Namoen sajang soenggoh sajang, pada boelan Februari taoen 1952 kabinet ini djatoeh. Kabinet ini djatoeh boekan kerna THR itoe namoen kerna kebidjakanloear negerinja jang pro-Amerika Serikat choesoesja dalam masalah perdjandjianpertahanan dan keamanan dengan Amerika Serikat. Laloe bagaimana dengan nasib pamong pradja? Nasib mereka ternjata baek2 sadja dan pada achirnja pemberianTHR telah mendjadi tradisi di tiap2 lebaran. Kabinet Soekiman adalah penanamtonggak jang kokoh dari pada tradiri THR. Sebagai penoetoep, maka, moentjoelnjakebidjakan THR ini kita bisa tafsir bahwa setiap rezim, setiap kabinet, atawase tiap itoe golongan pemimpin jang ingin memerintah negeri ini dan ingin perintah2nja didenger dan dipatoehi, maka, mereka koedoe sajang dan mengasihi para pamongpradja. Benar atawa salah saja serahken pada sekalian para pembatja jangboediman, dan djika ada jang salah mohon dibetoelkan dan achir kata Wa Allah'Alam bi Showab.



Tidak ada komentar: