Kamis, 26 Agustus 2010

Buku Absen Salat Terawih

Buku Absen Salat Terawih: Antara Lapor Tuhan dan Lapor Negara

Dalam bahasa teologis, puasa adalah sebuah perintah dari Tuhan. Ini berarti bahwa puasa adalah bagian dari konsep-konsep abstrak dari ajaran agama. Namun dalam tataran praktik puasa melahirkan banyak tradisi agama yang riil, kongkrit dan nyata. Adalah tidak mengejutkan jika pada bulan puasa, segala suku dan bangsa di dunia Islam menampilkan tradisi khas dalam menyambut bulan puasa. Tradisi ini bersifat khas karena menyuguhkan tradisi lokal yang sudah ada dan mengakar kuat. Meski tradisi-tradisi itu berbeda namun pada dasarnya tetap memiliki inti yang sama yaitu tidak makan dan tidak minum di siang hari, memperbanyak segala macam amal ibadah di siang dan malam hari, dan membuat semarak masjid.

Demikian pula di Indonesia, ada satu penafsiran unik dalam bentuk kegiatan kongkrit dan penting untuk anak-anak. Di masa modern pada masa puncak zaman keemasan orde baru era 1980an, dalam menyambut bulan puasa, negara menciptakan tradisi kreatif yang tidak ada di zaman-zaman sebelumnya bahkan di zaman rasul Allah Muhammad yaitu “laporan khusus salat terawih oleh anak-anak.” Tradisi ini merujuk pada sebuah sistem birokrasi modern dari sebuah negara modern. Tradisi ini adalah suatu politik pendidikan dengan tujuan menjinakkan anak-anak dengan cara membuat sibuk mereka dalam sebuah institusi bernama sekolah dan dalam tugas aneh bernama belajar. Pada bulan puasa, negara melalui kementerian agama dan melalui tangan guru-guru agama memerintahkan anak-anak yaitu mereka, yang duduk di sekolah dasar, usia antara enam hingga dua belas tahun, untuk pergi ke masjid dan ikut salat terawih dan meminta tanda tangan imam. Dalam tradisi ini, guru agama membagikan kepada setiap murid muslim sebuah buku laporan salat terawih. Buku ini dicetak oleh kantor wilayah kementerian agama tingkat propinsi. Di dalamnya ada daftar absensi salat terawih lengkap dengan kolom-kolom berisi nama masjid, nama imam, dan urutan saf dan kolom untuk tanda tangan imam salat terawih. Pada awal pelaksanaan program ini, kementerian agama tidak mencetak buku tersebut namun kementerian agama lewat guru agama Islam meminta anak-anak membeli buku tulis kosong dan membuat kolom-kolom di dalamnya sebagai laporan salat terawih. Program ini bersifat wajib. Guru Agama menjadi pengawas ketat. Mereka secara rutin memeriksa buku tersebut.

Dulu saat saya masih anak-anak saya melihat “efek samping” dari program kesalehan itu. Efek samping itu berasal dari kewajiban agama tersebut adalah di mana sang imam di samping capek, lelah, dan payah karena memimpin sembahyang terawih juga dibikin capek oleh tugas memberikan tanda tangan sebagai bukti kehadiran. Yang bikin capek lagi adalah terlalu banyak buku yang ia harus tanda tangan. Kadang ada sepuluh hingga empat puluh buku yang harus ia kasih tanda tangan. Namun kewajiban ini tergantung pada populasi anak di sekitar masjid tempat ia memimpin salat. Jika populasi anak sedikit maka sang imam tidak terlalu pusing dalam mengatur dan namun jika populasi anak-anak banyak maka ia pasti capek. Biasanya setelah salat terawih selesai anak-anak akan langsung berkerumun di tengah masjid atau di luar menumpuk buku mereka sambil duduk menunggu sang imam dan sambil bercanda ria, lari-lari, dan saling ejek mengejek.

Pada tahun 1988 hingga 1994, saya menikmati perintah salat terawih sebagai sebuah kewajiban yang benar-benar wajib yang berasal dari Allah taala. Pada ketika itu bapak mendapat tugas dari takmir masjid menjadi imam salat isyak dan salat terawih di masjid besar kota. Saya seorang bocah merasa takjub dengan pekerjan bapak tersebut yaitu memimpin ratusan orang salat terawih. Rasa takjub saya bukan terletak pada tugas imam tapi sikap aneh bapak, yang berteriak keras mengucapkan takbir dalam setiap gerakan seakan-akan ia tidak percaya bahwa speaker hitam di ujung ruang imam bisa memperkuat suara dan teriakannya. Saya sendiri dan dua kakak perempuan saya juga senang ikut bapak ke kota bukan karena salat terawih tapi karena bisa bermain-main di alun-alun kota dan beli segala macam jajan dari para pedagang jajan di alun-alun. Soal buku laporan, kami tinggal minta tanda tangan kapan saja dan langsung diisi penuh. Dan kadang dua kakak saya tiada ikut salat terawih tapi malah bermain-main di luar masjid dengan anak-anak kampung di kota blitar. Lari-lari, beli dan makan jajan. Bercanda, dan saling ejek-mengejek. Masjid menjadi kenangan indah tentang masa kecil dan masa senang, riang.

Pada ketika bulan puasa maka sungguh masjid penuh anak-anak kecil, meski sedikit tersiksa dengan kewajiban tersebut. Mereka melaksanakan perintah agama dan perintah negara dengan bumbu sedikit pemaksaan, keharusan, dan kewajiban untuk datang ke masjid. Mereka salat terawih. Mereka meminta minta tanda tangan sang imam. Tanda tangan adalah absensi sebagaimana bukti khas lazim dari birokrasi modern. Ibadah lebih menyerupai sebagai sebuah absensi dan Tuhan adalah guru agama nan agung.

Seperti Khalifah Umar bin Kattab di Asia Barat seribu lima ratus tahun lampau, negara republik di Asia Tenggara ini, telah dengan lihai menjadikan ibadah sunnah menjadi ibadah wajib. Negara memanfaatkan perkasas modern dari sistem pendidikan modern, yaitu pensil dan buku, untuk menjinakkan anak-anak dan menjadikan mereka sibuk. Tujuan utama negara adalah mempersiapkan mereka menjadi warga negara yang religius dan paham bahwa taat kepada Tuhan dan taat kepada negara adalah sama-sama penting. .

Tidak ada komentar: