Senin, 16 Agustus 2010

Episode II Kantor Urusan Kematian: Yayasan Bunga Selasih (YBS)

A. Sejarah Singkat YBS

YBS adalah suatu yayasan yang membantu perawatan jenazah sejak dari persiapan sampai dengan pemakaman sesuai dengan ajaran Islam dan tuntunan medis. Ini adalah pelayanan utama dari YBS. Dari sudut pandang agama ada alasan kuat mengapa tujuan YBS adalah membantu merawat jenazah. Mufti, ketua YBS, mengatakan bahwa menurut ajaran Islam yang wajib merawat jenazah adalah pihak keluarga. Oleh karena itu YBS tidak mencantumkan kata “merawat jenazah” secara langsung melainkan “membantu merawat jenazah”. Selain pelayanan utama tersebut, YBS juga menyelenggarakan bimbingan perawatan jenazah, menyediakan mobil jenazah, jasa perlengkapan jenazah yaitu peti mati, nisan dan jasa even organizer yaitu mengurus secara total upacara pemakaman. YBS juga mengusahakan tempat pemakaman khusus untuk orang Islam dan memiliki hubungan dengan dinas pemakaman umum pemerintah-pemerintah kota/kabupaten di Yogyakarta.

YBS didirikan oleh sekelompok Islam kota yang tinggal di perumahan. Sebagian besar dari mereka adalah lulusan universitas dan bekerja sebagai dosen. Di atas kertas YBS berdiri pada 1 April 1988. Selang waktu kurang lebih dua bulan kemudian YBS memperoleh status hukum yakni pada 15 Juni 1988 dengan keluarnya akta yayasan dari Kantor Notaris dan Pejabat Pembuat Akta Tanah Daliso Rusdianto. Ada tujuh orang pendiri YBS yang tercantum dalam akta pendirian yayasan tersebut yaitu 1) Sahirul Alim, dosen di UGM dengan gelar master of science, bertempat tinggal di perumahan dosen UGM sekip. 2) I.N.Mufti Abu Yazid, dosen di UII dan bertempat tinggal di kampung Sendowodekat dekat dengan perumahan sekip. 3).Sudarso, dosen UGM dan bertempat tinggal di perumahan dosen sekip. 4). Slamet Saiful Muslim, dosen di UGM dan bertempat tinggal di Pogung Kidul dekat dengan perumahan sekip, 5). Mutia Farida, ibu rumah tangga dan bertempat tinggal di perumahan sekip. 6). Abdul Latief, dokter dan dosen di UGM dan bertempat tinggal di perumahan sekip. 7). Mohammad Na’man Zaini, pensiunan dan bertempat tinggal di Jalan Kliurang km.5. 8) Musrini Darussalam, ibu rumah tangga dan bertempat tinggal di Terban. Dilihat dari pekerjaan dan tempat mereka tinggal maka bisa dikatakan bahwa mereka adalah orang-orang yang menikmati fasilitas kota dan masuk ke dalam golongan kelas menengah. Kantor pertama yayasan berada di kompleks perumahan Sekip N/27 Sleman. Perumahan ini berada di kampus UGM yang dibangun khusus untuk dosen-dosen UGM.

Pada sepuluh tahun pertama keberadaannya, aktifitas YBS masih sangat terbatas karena memiliki sedikit tenaga personalia. Hanya ada tiga perawat jenazah laki-laki sekaligus merangkap sebagai sopir dan tiga perawat jenazah perempuan. karena masing-masing memiliki kesibukan pribadi maka dalam prakteknya tidak semua pendiri YBS ikut serta dalam aktifitas yayasan. Orang yang tekun mengembangkan YBS adalah Mufti Abu Yazid. Di waktu itu ia aktif mengurus YBS dan bisa dihubungi selama hampir 24 jam. Ia akan datang langsung ke rumah duka atau rumah sakit untuk memandikan, mengkafani, mensalatkan, menguburkan, dan mendoakan jenazah. Ia juga yang mula-mula membuat sistem administrasi di YBS dengan mencatat daftar anggota, membuat nomor anggota dan mengumpulkan iuran rutin. Ia pula yang merekrut pegawai-pegawai YBS. Salah seorang staf terlama di YBS adalah Aditomo. Mula-mula ia bekerja paruh waktu di YBS. Ini karena pekerjaan utama ia adalah seorang pegawai negeri sipil sebagai staf administrasi di Fakultas Geografi UGM dan seorang rohaniawan di Rumah Sakit Sardjito. Setelah pensiun ia mulai bekerja penuh di YBS. Selama hampir dua puluh tahun ia aktif di YBS. Mula-mula ia menjadi asisten Mufti Abu Yazid. Pada masa awal berdirinya YBS ia merangkap beberapa pekerjaan sebagai perawat jenazah sekaligus sopir mobil jenazah dan mengantarkan jenazah ke tempat pemakaman. Pada waktu itu meskipun daerah kerja YBS masih terbatas pada kota Yogyakarta dan sekitarnya namun YBS bisa memberikan jasa mobil jenazah untuk menghantarkan jenazah ke kota-kota lain seperti Gresik dan Surabaya.

Berdirinya YBS dilatarbelakangi oleh rasa prihatin yakni tidak adanya seorang kaum, perawat jenazah, di kota terutama di kompleks perumahan. Masyarakat di perumahan sering kali mengalami kesulitan dalam mengurus jenazah karena mereka tidak memiliki pengalaman merawat jenazah. Mereka tidak mengerti tata cara cara memandikan jenazah, membungkus jenazah dengan kain kafan, mensalatkan, dan menguburkan jenazah. Apalagi secara umum para penghuni perumahan bukan penduduk asli. Mereka adalah masyarakat baru dan tidak mempersiapkan diri mereka dalam urusan kematian. Oleh karena itu masyarakat perumahan biasanya tergantung pada bantuan seorang kaum dari desa-desa setempat yang dekat dengan kompleks perumahan.

Jika pun ada seorang kaum dari desa sekitar namun masih ada keprihatinan lain. Keprihatinan itu adalah pada soal penampilan di mana penampilan seorang kaum dari desa kadang tidak sesuai dengan keinginan warga perumahan. Dari sudut pandang masyarakat kota, penampilan seorang kaum nampak kurang menyakinkan. Penampilan mereka dianggap kurang rapi, kurang necis dab kurang etis untuk dikenakan. Para kaum sering mengenakan pakaian sederhana sesuai dengan lingkungan desa mereka. Di masa lalu di tahun 1980an dan awal 1990a, adalah cukup lazim bagi seorang kaum mengenakan pakaian sederhan terdiri dari sarung, kopiah usang, dan sandal jepit. Ini mendorong ketidakpercayaan orang-orang perumahan pada cara kerja kaum dalam mengurus jenazah. Sebaliknya, memang, para kaum sendiri juga merasa canggung, kurang percaya diri untuk masuk ke lingkungan perumahan yang karakter masyarakatnya berbeda dengan masyarakat dari mana kaum itu berasal. Lingkungan perumahan adalah lingkungan urban sedangkan kaum berasal dari lingkungan pedesaan yang agraris. Mereka merasa kesulitan untuk menyesuaikan diri dengan kehidupan kota yang tampil bersih di lingkungan perumahan. Dalam melihat realitas ini satu fakta penting yang perlu diperhatikan di sini adalah para kaum, yang memiliki pekerjaan penting, tidak mendapatkan gaji tetap namun hanya mendapatkan uang lelah atau sedekah yang nilainya tidak terlalu besar. Uang lelah ini tergantung pada kemampuan ekonomi dari pihak keluarga yang meninggal.

Alasan lain yang lebih bersifat religius yang mendorong berdirinya YBS adalah kurangnya pengetahuan para kaum dalam merawat jenazah menurut ajaran Islam. Para kaum dalam merawat jenazah adalah lebih berdasarkan pada adat dan bukan pada tata cara Islam sehingga adalah suatu kelaziman bila di masa lalu di Yogyakarta ada seorang kaum memandikan jenazah perempuan. Padahal menurut syariat Islam jenazah perempuan wajib dimandikan oleh perempuan. Realitas ini kadang menyebabkan orang-orang-orang Islam kota menganggap para kaum melakukan pekerjaan mereka adalah tidak sah karena tidak sesuai syariat.

B. Operasional Kerja dan Pelayanan
Jam dan kegiatan kerja di YBS dalam sehari-hari terbagi pada dua kelompok pegawai yaitu pegawai kantor dan pengawai lapangan, bisa disebut perawat jenazah, atau orang yang memandikan jenazah. Pegawai kantor terdiri dari sekretaris direktur YBS, kepala kantor, dan tiga orang staf. Dua hal penting yang perlu ditekankan dalam penelitian ini adalah peran kepala kantor dan dua orang staf kantor. Tugas utama kepala kantor adalah memastikan urusan administrasi kantor yaitu pembayaran rekening listrik, rekening telepon, pajak kendaraan mobil-mobil jenazah YBS, dan perlengkapan perawatan jenazah yaitu kain kafan, kapur barus, sarung tangan, sabun, shampoo, peti mati, nisan dan lain-lain. Dua orang staf kantor mengurus permintaan pelayanan yaitu mengangkat telepon dari keluarga yang meminta pelayanan, mencatat alamat rumah duka, menerima anggota baru, menerima dan mencatat iuran bulanan, dan menulis nama almarhum pada nisan. Ada seorang pegawai khusus memiliki tugas menagih biaya perawatan jenazah pada pengguna YBS. Staf kantor masuk kerja pada hari senin hingga sabtu pada pukul tujuh pagi hingga pukul dua siang. Pada sore dan malam hari kantor tutup, namun YBS menyediakan emergency call, untuk permintaan jasa pelayanan pada malam hari.

Ada delapan pegawai lapangan yang terdiri dari empat orang pria dan empat orang perempuan dan tiga orang sopir. Tugas pokok pegawai lapangan adalah merawat jenazah meliputi memandikan, mengkafani, mensalatkan, dan mendoakan jenazah. Sesuai dengan ajaran Islam, maka, pegawai laki-laki hanya diperkenankan merawat jenazah laki-laki dan pegawai perempuan hanya diperkenankan merawat jenazah perempuan. Laki-laki tidak boleh merawat jenazah perempuan kecuali muhrim atau istri, begitu pula sebaliknya, perempuan tidak boleh merawat jenazah laki-laki kecuali muhrim atau istri. Pegawai lapangan tidak masuk kerja setiap hari. Jam kerja mereka tergantung pada permintaan pelayanan karena itu sewaktu-waktu mereka bisa dipanggil untuk bertugas. Mereka bisa bekerja pada subuh dini hari, siang hari, dan bahkan malam hari. Saya sendiri pernah dihubungi lewat sms diundang untuk mengikuti perawatan jenazah pada pukul 11 malam di wilayah Pugeran Kota Yogyakarta. Sama seperti pegawai lapangan, tiga orang sopir memiliki jam kerja yang tergantung pada permintaan pelayanan. Tugas mereka adalah mengantarkan pegawai lapangan ke rumah duka atau ke rumah sakit. Tugas penting lainnya adalah mengantarkan jenazah dari rumah duka ke tempat pemakaman dan mengantarkan jenazah dari Yogyakarta ke kota-kota lain yang jauh seperti Jakarta, Palembang dan Bali.

YBS memiliki peran sangat penting di Yogyakarta karena YBS adalah lembaga pertama yang memberikan jasa urusan kematian bagi umat muslim di kota. Perkembangan kota lebih mengarah pada kepentingan ekonomi dan tidak menyediakan suatu sistem sosial untuk urusan kematian. Tidak ada rumah duka untuk orang Islam. Tidak ada kaum di kompleks perumahan. Maka kemunculan YBS sangat bermanfaat bagi warga muslim kota. Dari data tahun 2007, 2008, dan 2009 setiap bulan YBS menangani perawatan jenazah rata-rata sebanyak 40 jenazah. Pada tahun 2007, YBS telah menangani 452 jenazah. Penanganan ini mencakup perawatan jenazah dan jasa mengantarkan jenazah ke dalam dan luar kota. Pada tahun tersebut, titik tertinggi permohonan pengurusan jenazah terjadi pada bulan April yaitu 49 jenazah sedangkan titik terendah pada bulan Februari yaktu 31 jenazah. Pada tahun 2008, YBS telah mengurus 478 jenazah dengan titik tertinggi pada bulan September yaitu 50 jenazah sedangkan titik terendah pada bulan Juli yaitu 34 jenazah. Pada tahun 2009 (dengan perkecualian bulan Desember), YBS telah mengurus 470 jenazah dengan titik tertinggi pada bulan Juni 56 jenazah sedangkan titik terendah pada bulan Juli yaitu 30 jenazah. Maka boleh dikatakan dalam sehari YBS mengurus sekitar satu hingga tiga jenazah. Fakta ini menunjukkan betapa penting peran YBS dalam menangani perawatan jenazah di kawasan urban di Yogyakarta.

Jasa penting YBS selain pada perawatan jenazah adalah jasa transportasi mobil jenazah. Dewasa ini di lingkungan perkotaan jarang sekali atau bahkan tidak ada lagi jenazah yang diantar dengan menggunakan keranda karena lokasi tempat pemakaman umum sangat jauh dari pusat kota dan kompleks perumahan. Oleh karena itu diperlukan mobil jenazah dan YBS menyediakan jasa ini sehingga peran dari mobil jenazah menjadi sangat penting. Ada lima kendaraan operasional di YBS yaitu tiga mobil jenazah, satu pick up, dan satu mobil penumpang. Pembelian mobil jenazah bukan berasal dari dana YBS namun berasal dari sumbangan donatur. Satu mobil jenazah L-300 merk Mitsubisti berasal dari sumbangan P.T Tugu Pratama, sebuah perusahaan milik konglomerat Indonesia bernama Bob Hasan, satu mobil jenazah L-300 merk Mitsubisi sumbangan dari Pusat Informasi Amin Rais, dan satu mobil jenazah besar sumbangan dari Harian Kedaulatan Rakyat. Pada masing-masing mobil terdapat tulisan sumbangan dari donatur dan nama Yayasan Bunga Selasin. Satu mobil penumpang L-300 merk Mitsubishi adalah sumbangan dari Bank Indonesia Yogyakarta. Sama seperti mobil jenazah, pada mobil ini terdapat tulisan sumbangan dari Bank Indonsia. Yang terakhir adalah sebuah mobil pick up yang digunakan untuk mengangkut dipan memandikan jenazah, perlengkapan perawatan jenazah, dan ember serta kain terpal.


Berikut ini adalah kronologi umum dari permohonan pelayanan perawatan jenazah di YBS. Seorang anggota YBS atau seseorang meninggal, maka seorang anggota keluarga almarhum segera menghubungi YBS untuk meminta pelayanan perawatan jenazah. Staf kantor YBS akan menerima telepon tersebut. Ia mencatat nama almarhum, alamat rumah, nama serta nomor telepon atau handphone dari anggota keluarga almarhum yang selalu bisa dihubungi. Tujuannya adalah agar orang itu menjadi rujukan utama dalam komunikasi antara YBS dengan keluarga almarhum. Setelah itu, staf kantor segera menghubungi sopir (mereka menyebutnya driver) YBS yang sedang tidak bertugas. Sopir bertugas mengantarkan staf lapangan ke rumah duka. Setelah mengontak sopir YBS, staf kantor akan mengontak dua orang sampai tiga orang staf lapangan. Jika permintaan pelayanan terjadi di siang hari dan yang meninggal adalah laki-laki, maka staf lapangan akan berkumpul di kantor YBS. Mereka kemudian berangkat ke rumah duka dengan membawa tas ransel berisi perlengkapan jenazah seperti kain kafan dan kapur barus. Kendaraan yang mengantarkan mereka adalah sebuah mobil pick up hitam di mana di belakangnya selalu mengangkut sebuah dipan berdoa empat. Dipan digunakan untuk memandikan jenazah di rumah duka. Beberapa keluarga memang memilih agar jenazah dimandikan di rumah. Ini berbeda jika yang meninggal adalah perempuan, maka, staf lapangan perempuan akan dijemput satu per satu oleh sopir YBS dan baru kemudian berangkat ke rumah duka. Begitu pula jika permintaan pelayanan terjadi pada malam hari dan jenazah yang meninggal adalah laki-laki, maka staf lapangan akan dijemput satu per satu oleh sopir YBS.

Tiba di rumah duka, hal pertama yang dilakukan oleh pegawai YBS adalah menemui anggota keluarga almarhum khususnya orang yang telah menghubungi YBS. Ini penting dilakukan untuk memudahkan komunikasi dengan pihak keluarga secara keseluruhan. Dengan tidak mengambil waktu yang lama, pegawai YBS segera mendiskusikan dengan wakil keluarga tersebut tentang tempat di mana jenazah akan dimandikan dan disemayamkan sementara. Selama saya mengikuti kegiatan perawatan jenazah, biasanya jenazah dimandikan di halaman belakang rumah atau di halaman depan rumah. Jenazah lazim disemayamkan di ruang tamu dibaringkan atas meja atau dipan. Setelah disepakati di mana tempat memandikan jenazah, pegawai YBS segera menurunkan dipan untuk memandikan jenazah ke tempat yang telah disepakati tersebut dan menutup sekelilingnya dengan kain terpal agar tidak terlihat orang-orang. Pegawai lain menuju ke ruang tamu untuk menyiapkan kain kafan, kapas, bubuk kapur barus, bubuk kayu cendana, dan perlengkapan mandi yaitu sabun, shampo, handuk, dan kain batik. Sesuai dengan ajaran Islam, maka pegawai YBS akan mengajak keluarga untuk ikut memandikan jenazah. Dan sesuai dengan tuntunan medis, para perawat jenazah YBS mengenakan sarung tangan dan celemek untuk melindungi badan dari air. Demikian pula pihak keluarga yang ikut memandikan jenazah mereka harus memakai sarung tangan dan celemek yang melindungi badan dari basah air. Sesuai dengan tuntunan ajaran Islam pada waktu dimandikan jenazah tidak boleh telanjang dan aurat harus ditutupi. Di atas tubuh jenazah diberi kain sarung atau kain batik. Mula-mula jenazah diwudhukan terlebih dahulu, baru kemudian dimandikan. Ada tiga staf YBS dan kadang ditambah dua orang dari keluarga almarhum yang memandikan jenazah. Yang paling penting, menurut staf YBS, harus ada satu orang yang tugasnya menyiramkan air terus menerus. Staf lain bertugas mengusapkan shampo pada rambut jenazah dan mengusapkan sabun pada badan dan kaki jenazah keseluruhan. Setelah dirasa cukup, untuk terakhir kali, tubuh jenazah dibilas dengan air yang dicampur kapur barus.

Selesai dimandikan, jenazah dikeringkan dengan handuk. Lalu, beberapa bagian dari tubuh jenazah akan ditaburi kapur barus dan bubuk kayu cendana yaitu ujung kaki, kaki, dan badan. Lubang hidung dan telinga jenazah ditutup dengan kapas. Lalu, jenazah dibungkus dengan kain kafan. Seorang staf YBS menjelaskan kepada saya bahwa YBS memilih kain kafan terbaik dan memberikan tiga lapis kain kafan untuk jenazah. Selama magang di YBS saya melihat staf YBS memberikan tiga lapis kain kafan untuk jenazah dan satu helai plastik, seukuran kain kafan, pada lapis kedua. Tujuan menggunakan plastik adalah untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan selama jenazah masih disemayamkan di rumah, misalnya keluarnya darah dari luka dari tubuh jenazah yang akhirnya menembus kain kafan. Ini adalah alasan medis.

Selesai membungkus jenazah, staf YBS menjalankan salat jenazah dan mendoakan jenazah. Salat jenazah adalah bagian penting dari jasa pelayanan staf YBS. Mereka akan mengajak anggota keluarga almarhum salat jenazah. Ada keluarga almarhum yang seluruh anggota keluarga mengikuti salat jenazah bahkan imam dari salat jenazah adalah anggota senior keluarga tersebut. Namun ada pula keluarga almarhum yang tidak menunaikan salat jenazah dan hanya staf YBS saja yang mesalatkan dan mendoakan jenazah.

Setelah perawatan jenazah selesai, staf YBS akan menata kembali perlengkapan jenazah dan mengembalikan dipan mandi jenazah ke mobil. Staf YBS kemudian duduk bersila di ruang tamu untuk istirahat sebentar. Tuan rumah biasanya menyuguhkan minuman dan makanan ringan. Tuan rumah akan menanyakan biaya total pelayanan. Staf YBS mengeluarkan secarik kertas menuliskan total biaya. Namun Staf YBS buru-buru mengatakan bahwa sebaiknya pembayaran dilakukan di kantor setelah urusan pemakaman selesai. YBS memberikan waktu seminggu hingga dua minggu setelah pemakaman. Namun sebelumnya pamit pulang, staf YBS menawarkan jasa YBS lainnya terkait upacara pemakaman. Empat hal yang selalu ditawarkan dengan sangat halus, sering dengan Bahasa Jawa dan kadang Bahasa Indonesia, yaitu rohaniawan, peti mati/keranda, dan mobil jenazah. Keluarga almarhum biasanya memesan empat hal tersebut. Namun ini pun tergantung pada pengetahuan keluarga almarhum tentang upacara pemakaman. Setelah itu, staf YBS pun pamit pulang. Dan jika keluarga almarhum memesan nisan, rohaniawan, dan mobil jenazah, maka esok hari sopir YBS dan rohaniawan akan kembali ke rumah duka dan hadir mengikuti upacara pemakaman hingga selesai.

Perawatan jenazah sedikit berbeda jika dilakukan di rumah sakit. Setelah mendapat permintaan pelayanan dan mendapatkan informasi nama orang yang meninggal dan nomor telepon dari seorang anggota keluarga, staf YBS akan berangkat menuju ke rumah sakit tidak dengan mobil pick up namun dengan mobil ambulance. Ini karena rumah sakit memiliki fasilitas kamar jenazah di mana di dalamnya terdapat fasilitas lengkap untuk memandikan jenazah dan untuk keperlukan forensik. Tiba di rumah sakit, mobil ambulance YBS langsung dikenal oleh satpam rumah sakit dan tukang parkir dan langsung diperkenankan menuju ke kamar jenazah. YBS telah lama dikenal oleh dan menjalin hubungan yang erat dengan semua rumah sakit di Yogyakarta. Sewaktu mengikuti staf YBS merawat jenazah di rumah-rumah sakit utama di Yogyakarta, saya melihat bahwa Aditomo, kepala kantor YBS, dan juga staf-staf YBS lain mengenal baik seluk beluk kamar jenazah di Rumah Sakit Sardjito, Panti Rapih, Bethesda, dan Rumah Sakit Jogjakarta International Hospital (JIH). Bahkan mereka paham cara membuka pintu dan perlengkapan-perlengkapan yang ada di kamar jenazah di rumah-rumah sakit tersebut.

Tiba di rumah sakit pegawai YBS segera menemui keluarga almarhum untuk menyampaikan bela sungkawa dan dengan tidak menunggu waktu lama bersama anggota keluarga almarhum mengurus administrasi pengambilan jenazah untuk dimandikan di kamar jenazah. Staf-staf YBS lainnya telah berada di kamar jenazah untuk mempersiapkan kain kafan dan perlengkapan perawatan jenazah lain yaitu sabun, shampo, kapas dan serbuk kapur barus. Berbeda dengan proses memandikan jenazah di rumah duka, prosesi merawat jenazah di rumah sakit sangat mudah karena ada fasilitas untuk memandikan jenazah. Di kamar jenazah terdapat beberapa dipan permanen untuk memandikan jenazah lengkap dengan shower air, saluran pembuangan air, tempat baju kotor, dan tempat sampah, sepetu boat, selimut, handuk, dan wastafel. Sama seperti di rumah duka, sebelum memandikan jenazah pegawai YBS akan mengajak anggota keluarga untuk ikut memandikan jenazah. Selesai dimandikan, tubuh jenazah dikeringkan dengan handuk dan dibungkus dengan kain kafan. Karena tidak ada ruang untuk mensalatkan jenazah maka pegawai YBS tidak mensalatkan jenazah. Jenazah langsung dibawa ke mobil jenazah. Selama magang di YBS saya melihat bahwa hanya ada satu rumah sakit di Yogyakarta yaitu Rumah Sakit JIH yang menyediakan kamar jenazah dan ruang salat jenazah yang cukup luas yang bisa menampung empat puluh orang. Ruang ini dilengkapi dengan satu kamar toilet dan tempat wudhu. Setelah urusan merawat jenazah selesai, keluarga almarhum akan menanyakan biaya perawatan jenazah. Sama seperti di rumah duka, staf YBS akan memberikan catatan dan mengatakan bahwa pembayaran sebaiknya dilakukan seminggu setelah urusan pemakaman selesai.

Baik Aditomo maupun Mufti menjelaskan bahwa pembayaran atas jasa pelayanan dari YBS bisa dilakukan seminggu hingga dua minggu setelah pemakaman. Mufti mengatakan dengan tegas bahwa kami tidak menjalankan bisnis karena pekerjaan ini semata-mata untuk ibadah, membantu orang yang mendapat musibah. Oleh karena itu tidak pantas meminta pembayaran pada waktu jenazah belum dimakamkan. Namun meski pembayaran bisa ditunda dalam waktu lama YBS telah mencatat beberapa jasa yang diberikan. YBS memiliki sebuah kuitansi yang dengan detil memerikan jasa-jasa pelayanan yang disediakan.

Berikut ini adalah daftar biaya perawatan jenazah. Biaya memandikan jenazah adalah sebesar Rp. 400.000, pemesanan nisan Rp. 100.000, jasa rohaniawan Rp.100.000, sewa peti mati Rp. 70.000, beli peti mati antara paling murah Rp. 500.000 dan paling mahal bisa mencapai Rp. 10.000.0000, transportasi mobil ambulance dalam kota 200.000, untuk luar kota per kilometer x Rp5000. Selain itu, YBS menawarkan jasa pelayanan total dari perawatan jenazah hingga upacara pemakaman. Di sini YBS yang akan bertindak sebagai event organizer dan mengurus segala hal dari kursi, tenda, hingga sound sistem hingga pembawa acara. Sayangnya selama penelitian saya tidak menjumpai kasus ini. Beberapa staf YBS hanya menceritakan kepada saya bahwa pada tahun 2007 ada keluarga dari pensiunan perwira militer angkatan di kota Yogyakarta menggunakan jasa lengkap YBS. Dalam soal pembiayaan ada perbedaan antara anggota dan non anggota. Untuk anggota, minimal telah menjadi anggota selama satu tahun, YBS menggratiskan biaya memandikan jenazah dan biaya transportasi khusus dalam kota. Sedangkan untuk non anggota biaya perawatan jenazah dan transportasi masing-masing Rp. 400.000 dan Rp.200.000. Untuk jasa lain baik anggota maupun non anggota membayar harga yang sama. Untuk transportasi mobil jenazah ke luar kota dikenai per kilometer Rp.5000, pemesanan nisan kayu Rp. 100.000, jasa rohaniawan Rp.100.000, sewa peti mati Rp. 70.000, beli peti mati antara paling murah Rp. 500.000 dan paling mahal bisa mencapai Rp. 10.000.0000, untuk luar kota per kilometer x Rp5000. Selain itu, YBS menyediakan jasa event organizer upacara pemakaman. Dalam kasus ini YBS mengurus segala hal terkait perawatan jenazah hingga upacara pemakaman dengan mengurus kursi, tenda, sound sistem, catering, susunan acara dan bahkkan pembawa acara. Sayangnya selama penelitian saya tidak menjumpai kasus ini. Beberapa staf YBS hanya menceritakan kepada saya bahwa pada tahun 2007 ada keluarga dari pensiunan perwira militer angkatan di kota Yogyakarta menggunakan jasa lengkap YBS sebagai event organizer.


C. Profil Anggota

Sejak tahun 1994 YBS menerapkan sistem anggota dalam memberikan jasa perawatan jenazah. Syarat utama untuk menjadi anggota YBS adalah harus beragama Islam sedangkan syarat lain adalah syarat administrasi umum seperti pas foto dan kartu tanda penduduk dan membayar biaya pendaftaran sebesar Rp.10.000. Setelah diterima menjadi anggota, maka, YBS akan memberikan kartu tanda anggota. Anggota wajib membayar iuran anggota per bulan. Ada empat kategori pembayaran iuran yang dibuat berdasarkan usia. Kelompok A usia 61 ke atas, iuran minimum per bulan Rp. 5000, kelompok B usia 41-60 tahun, iuran minimum Rp. 4000, kelompok C usia 21-40, iuran minimum 3000 per bulan, kelompok D usia 0-20 tahun minimum 2000 per bulan. Seseorang anggota apabila meninggal dunia maka ia mendapatkan perawatan jenazah dari memandikan, pengkafanan dan salat jenazah. Ia juga mendapatkan hak transportasi mobil jenazah dari rumah duka sampai ke tempat pemakaman. Ini khusus di wilayah DIY. Apabila seseorang anggota itu dimakamkan di luar kota maka pengantaran jenazah dengan mobil jenazah mendapatkan tarif yang lebih rendah.

Nomor anggota di YBS dibuat secara detil, menggunakan nomor kode sembilan digit yang terbagi menjadi tiga kelompok. Antara nomor kelompok pertama dengan nomor kelompok kedua dan antara nomor kelompok kedua dengan nomor kelompok ketiga dipisahkan dengan titik. Nomor kelompok pertama berarti tahun mendaftar. Nomor kelompok kedua berarti daerah asal (Kabupaten/kota dan kecamatan) dan nomor kelompok ketiga berarti nomor urut anggota. Contoh nomor anggota misalnya 940.103.001. 940 berarti mendaftar tahun 1994, 1 berarti berasal dari kota Yogyakarta, 03 berarti berasal dari kecamatan Gondokusuman. Jumlah anggota YBS saat ini hingga akhir awal 2009 dan termasuk anggota yang telah meninggal adalah 5774 anggota. Sebagian besar anggota Anggota yang berasal dari kota Yogyakarta dan Sleman. Jumlah anggota dari kota Yogyakarta dan Sleman masing-masing sekitar 2000an anggota dan sisanya sekitar dua ratusan berasal dari Kulon Progo, Gunung Kidul, Bantul, dan Klaten, dan Purworejo. (Perlu perhitungan khusus dari kode daerah asal, agak sulit menentukan dengan pasti).

Berikut ini adalah ilustrasi sederhana tentang profil anggota YBS yaitu warga perumahan Sekip dan Perumahan Banteng. Jumlah anggota YBS di perumahan Sekip adalah 91 anggota. Perumahan Sekip adalah perumahan di lingkungan UGM. Sebagian besar penghuni perumahan ini adalah dosen UGM baik yang masih aktif mengajar maupun yang telah pensiun. Kantor pertama YBS berada di lingkungan perumahan ini. Pengguna YBS pertama adalah di lingkungan perumahan ini apalagi sebagian pendiri YBS adalah dosen-dosen UGM. Sudah menjadi tradisi bahwa Ketua YBS, Mufti Abu Yazid, memberikan sambutan dan doa dalam upacara pelepasan jenazah seorang profesor dan guru besar di Auditorium Universitas. Sementara itu, ada 224 anggota YBS di perumahan Banteng. Perumahan ini terletak di kawasan dengan perkembangan yang cukup pesat. Sebagian besar penghuni rumah ini adalah warga pendatang. Di perumahan ini ada seorang anggota yang menjadi penghubung atau cabang YBS dan bertugas menarik iuran kepada para anggota YBS dan kemudian menyetorkan ke kantor YBS. Anggota ini juga menerima anggota baru di lingkungan perumahan Banteng.

D. Studi Kasus: Perawatan dan Prosesi Pemakaman Jenazah Mohammad Hosen, di Perumahan Tiyasan Condong Catur Sleman 25 Nopember 2009.

Saya mengikuti staf YBS bertugas di rumah duka Jalan Ciptoning 39a, Perumahan Tiyasan, Desa Catur Tunggal, Depok, Sleman. Staf YBS yang bertugas pada waktu itu, sore hari sekitar pukul 3 sore adalah Aditomo, Makmur, dan Sapto dan seorang sopir bernama Mul. Orang yang meninggal adalah anggota YBS sejak bulan Juli 2008 bernama Mohammad Hosen umur 81 tahun dengan nomor anggota 208.202.321.

Kami berangkat dengan mobil pick up hitam. Saya duduk di bak belakang mobil pick up bersama Sapto. Kami duduk berhimpitan dan di depan kami adalah dipan pemandian jenazah dan beberapa ember besar, sedangkan Aditomo dan Makmur duduk di depan. Mobil melaju kencang mengejar waktu. Sampai di Jalan Kaliurang kilometer 9 mobil pick up belok ke kanan masuk ke Jalan Palem Raya dan masuk ke sebuah desa yang sebagian wilayahnya telah berubah menjadi perumahan. Kami tiba di rumah duka, di sebuah perumahan menengah. Lokasi perumahan bersebelahan dengan rumah-rumah penduduk asli. Rumah almarhum sebelah utara berhimpitan dengan rumah warga asli, rumah ketua Rukun Tetangga (RT), rumah biasa dan bentuknya jauh dibandingkan dengan rumah warga perumahan. Di sebelah selatan adalah rumah warga perumahan. Sisi sebelah timur adalah jalan lebar yang disemen dan seberangnya adalah beberapa rumah warga desa yang besar. Jarak antar rumah cukup longgar. Tidak padat seperti di kampung di mana rumah saling berhimpitan dan tindak ketat seperti rumah-rumah di perumnahan pada umumnya.

Tidak ada orang yang datang melayat. Tidak ada tetangga yang datang. Ini adalah suasana khas beberapa perumahan ketika terjadi peristiwa kematian. Hanya ada beberapa anak kecil, sekitar empat orang, bermain-main ke sana ke mari di pinggir jalan. Mul memarkir mobil di halaman rumah kuno besar milik warga desa. Di ujung jalan masuk menuju perumahan ada bendera warna putih. Ada seorang bapak berdiri di depan rumah duka yang kemudian saya ketahui adalah ketua RT setempat. Ia nampak serius dan menunggu kedatangan kami. Aditomo turun dari mobil dan masuk ke dalam rumah. Ia disambut oleh ketua RT dan beberapa anggota keluarga almarhum. Saya turun dari mobil pick up dan membawa tas ransel hijau berisi kain kafan dan perlengkapan pemandian jenazah. Saya masuk ke dalam rumah untuk meletakkan tas tersebut di ruang tamu. Aditomo dan beberapa anggota keluarga berbincang tentang tempat memandikan jenazah dan tempat jenazah disemayamkan sementara sambil diantarkan oleh keluarga almarhum masuk ke dalam kamar melihat jenazah. Makmur membuka tas ransel, menyiapkan kain kafan, kapas yang akan ditaburi bubuk kapur barus dan kayu cendana. Karena belum ada dipan, maka, Makmur dan Sapto menata kain kafan di atas karpet. Sementara itu Mul, sopir YBS, mereka-reka tempat yang tepat di mana jenazah akan dimandikan. Atas saran Aditomo, jenazah akan dimandikan di depan rumah persis di depan pintu garasi. Mul menilai dengan serius arah aliran air dan keran pancuran.

Saya sendiri lebih banyak membantu Mul menyiapkan dipan dan perlengkapan mandi untuk jenazah. Kami mengeluarkan dipan untuk memandikan jenazah dari mobil dan meletakkannya di depan pintu garasi. Saya mengunci roda dari dipan agar dipan tidak mudah bergerak. Lalu saya mengambil ember-ember besar di mobil. Saya letakkan ember-ember itu sejajar dengan keranda. Makmur ke luar dan ikut membantu. Aditomo juga ke luar ikut mengecek. Makmur memasang selang ke keran pancuran yang letaknya di sisi tembok halaman di depan ruang tamu. Lubang keran sangat besar, selang tidak cukup. Lalu Aditomo meminta selang besar. Mul mengambil selang besar dan memasangnya.

Mul dengan cekatan memasang kelambu hanya pada sisi luar dan sisi kanan dan mengikatkan tali kelambu pada tiang beton dari halaman depan rumah. Di sisi kiri sudah ada tembok, sementara di sisi belakang sudah ada pintu garasi. Mul mengisi ember dengan air dan kemudian saya menggantikan tugasnya. Saya mengambil ember kecil dan mengisinya dengan air. Saya isi separuhnya. Lalu saya ambil bubuk kapur barus di ruang tamu. Saya masukkan bubuk itu ke dalam ember kecil berisi air separuh. Ada dua ember besar berisi air dan satu ember kecil berisi air kapur barus. Saya menyiapkan sabun lifeboy dan memotongnya menjadi dua. Yang satu saya telakkan di dipan dan yang lainnya saya masukkan di gayung. Satu sachet shampoo Panten juga saya siapkan dan saya letakkan di dipan. Saya juga meminta ember kepada seorang ibu, kerabat almarhum, untuk wadah baju-baju kotor jenazah. Saya juga menyiapkan handuk dan kain batik di atas dipan. Namun Mul meminta saya agar handuk dan kain batik bersih diletakkan di atas kursi di garasi. Kursi pun saya keluarkan dari garasi dan saya letakkan di pinggir keranda agar mudah menyerahkan kepada pegawai YBS.

Selesai menyiapkan dipan dan perlengkapan mandi, kami masuk ke dalam rumah. Makmur menyiapkan kafan untuk di karpet. Melihat ini Aditomo memberitahu Makmur bahwa tubuh jenazah cukup besar dan meminta Makmur melebarkan kain kafan. Makmur pun setuju. Aditomo bertanya kepada keluarga apakah ada sebuah dipan kasur tidur yang bisa dipakai untuk tempat semayam jenazah sementara. Keluarga almarhum sedikit bingung. Seorang ibu mengusulkan sebuah dipan besar dekat dipan tempat jenazah. Aditomo setuju. Ibu tersebut melepas kasur yang ada di atas dipan. Saya dan Mul mengangkat dipan dan membawanya ke ruang tamu. Ketika melewati pintu keluar, dipan dimiringkan. Ibu tersebut memberikan perintah kami untuk berhati-hati dengan keras agar kami tidak terlalu memiringkan dipan karena kayu-kayu akan lepas. Kami meletakkan dipan di ruang tengah. Ruang tamu. Terjadi perdebatan kecil. Aditomo ragu apakah dipan ini bisa menampung jenazah. Kerabat juga ragu dan kurang setuju jika jenazah nanti disemayamkan pada dipan tanpa kasur. Lalu kasur pun diambil oleh seorang ibu dari kerabat almarhum dan diletakkan di atas dipan. Kasur ditutup dengan kain selimut.

Kami bersiap memandikan jenazah. Aditomo, Makmur, dan Sapto mengenakan sarung tangan dan celemek. Dua orang laki-laki dari kerabat ikut bergabung. Saya menjawab masih. Kami bersiap mengangkat jenazah. Tubuh jenazah sangat besar. Jenazah wafat karena lama menderita stroke. Di kamar tempat jenazah bersemayam, orang-orang berdiskusi tentang bagaimana cara mengangkat jenazah. Seorang kerabat mengusulkan jenazah diangkat dari kasur. Cara ini ditentang Aditomo. Itu terlampau sulit kata Aditomo. Karena punya banyak pengalaman merawat jenazah, Aditomo mengusulkan agar kasur diarahkan melintang. Orang-orang akan mengambil jenazah di sisi dipan dan siap mengangkat dan menggendongnya. Jenazah sangat berat. Perlu lima orang untuk mengangkatnya dan yang mengangkat jenazah adalah Mul, dua kerabat, Sapto, dan saya. Saya mengangkat di bagian kaki. Jenazah dibawa ke luar disertai dengan teriakan kecil untuk hati-hati. Tiba di dipan pemandian jenazah, Aditomo meminta kami untuk mengarahkan dan meletakkan kepala jenazah tepat di atas ujung dipan. Jenazah diletakkan di atas dan siap untuk dimandikan. Namun, tiba-tiba dipan miring ke depan dan hendak jatuh. Tubuh jenazah terlampau berat. Aditomo berseru meminta sepasang sandal jepit untuk mengganjal dipan agar tidak miring dan jatuh. Sepasang sandal diserahkan kepadanya dan roda keranda pun diganjal. Mul langsung pergi, ia tidak ikut memandikan jenazah karena belum berani. Aditomo menggunting pakaian jenazah dan saya menerima baju jenazah dan meletakkannya ke ember. Yang paling susah adalah melepas popok besar jenazah. Jenazah dimiringkan. Makmur melepas popok besar jenazah. Makmur menarik dengan keras. Popok pun lepas dan seketika debu-debu dari popok beterbangan namun, Makmur dan Sapto sangat tenang sedangkan Aditomo sudah menyiapkan kain masker yang menutup hidung dan mulutnya.

Dua orang anggota keluarga almarhum ikut memandikan jenazah. Seorang di antara mereka, bernama Samsul, bertanya kepada Aditomo tentang doa memandikan jenazah. Aditomo tersenyum dan menjawab cukup membaca bismillah saja. Karena mengerti bahwa dua anggota keluarga ini sangat kritis maka, Aditomo menerangkan kepada mereka tata cara memandikan jenazah. Aditomo menjelaskan bahwa pertama-tama jenazah diistinja terlebih dulu atau disucikan. Kedua, jenazah kita wudhukan dan ketiga jenazah dimandikan dan terakhir diwudhukan lagi. Sebelum memandikan jenazah, semua orang yang akan memandikan jenazah memakai sarung tangan dan celemek yang melindungi badan dari percik siraman air.

Jenazah pun dimandikan. Aditomo memegang selang dan menyiramkan air. Pertama-tama ia melakukan istinja pada jenazah. Ia mengarahkan selang pada aurat jenazah, pada alat kelamin dan dubur. Sapto dan Makmur membantu dengan menekan perut jenazah untuk mengeluarkan kotoran. Setelah itu, Aditomo memwudhukan jenazah dan kemudian memberikan ada aba-aba kepada kami bahwa jenazah siap dimandikan. Aditomo meminta kepada dua kerabat untuk membersihkan rambut jenazah dengan shampo. Aditomo juga mempersilahkan mereka ikut mengusapkan sabun pada tubuh jenazah, bersama Makmur dan Sapto. Saya sendiri fokus pada bagian kaki jenazah. Saya hendak mengusapkan sabun pada kaki jenazah. Namun Aditomo menyuruh saya membilaskan air dengan gayung pada kaki jenazah yang sudah berbusa karena usapan Sapto. Saya menyiramkan air beberapa kali namun Aditomo memarahi saya berkali-kali karena saya kurang gesit mengikuti irama mereka. Aditomo agak marah dan meminta saya mengguyurkan air dengan cepat. Tubuh jenazah dimiringkan ke kanan dan ke kiri untuk mengusap punggung belakang dengan sabun. Makmur dan Sapto sangat aktif mengusapkan sabun, dan Aditomo sangat cepat menyiramkan air. Dua anggota keluaga almarhum pada akhirnya lebih banyak diam, berdiri, dan melihat. Mereka kesulitan dalam mengusap sabun pada kulit jenazah. Sabun sering lepas, jatuh. Ketika akan mengambil Aditmo menyuruh saya ambil sabun yang lain. Demikian juga Sapto, ketika mengusap sabun pada tubuh jenazah juga sering lepas, namun ia bisa dengan gesit mengambil sabun. Saya sendiri akhinya berinisiatif membawa wadah sabun. Jenazah pun selesai dimandikan. Aditomo mewudhukan jenazah. Bagian akhir, jenazah disiram dengan air kapur barus. Saya yang menyiram ke tubuh jenazah dengan air kapur baris. Beberapa kali Aditomo jengkel karena saya tidak mengikuti petunjuknya agar menyiram secara merata termasuk ke dalam aurat jenazah.

Keran pun dimatikan. Jenazah dikeringkan dengan handuk. Kami membersihkan air-air yang masih melekat. Namun, mendadak, Aditomo meminta keran dihidupkan lagi. Saya begegas menuju keran. Saya putar keran. Aditomo mengarahkan selang air ke mulut jenazah dan hidung jenazah. Keran saya matikan. Saya kembali ke sisi jenazah dan ikut mengusap tubuh jenazah dengan handuk. Aditomo dan staf YBS dan dua kerabat almarhum melepaskan sarung tangan plastik dan membuangnya di ember bersama baju kotor lain. Saya mengambil kain batik, dan menyerahkannya kepada Aditomo. Saya meletakkan kain batik yang basah ke ember bersama baju kotor lain. Setelah tubuh jenazah telah bersih dari air. Aditomo meminta kapas. Makmur mengambilkan kapas di dalam rumah. Aditomo menyumbat hidung jenazah dan telinga jenazah dengan kapas. Lalu, jenazah tutup rapat dengan kain batik dan siap diangkat ke dipan di ruang tamu.

Ada lima orang yang mengangkat jenazah. Aditomo mengarahkan orang-orang dalam mengangkat jenazah. Mul ikut mengangkat jenazah, Sapto, saya di tengah, dari dua kerabat lain. Tubuh jenazah sangat berat. Punggung saya terasa sakit karena berat. Ketika jenazah tiba di dekat dipan, Aditomo mengarahkan kami dalam meletakkan jenazah dengan cara meletakkan telapak tangan di atas kafan bagian atas. Setelah itu, Aditomo menutupi aurat jenazah dengan baju kafan.

Makmur dan Sapto meletakkan kapas kosmetik yang telah ditaburi bubuk kapur barus pada kaki jenazah lutut, badan. Lalu, jenazah dibungkus. Ketika jenazah akan dibungkus, Aditomo jengkel karena jenazah ternyata diletakkan kurang tepat. Kurang ke atas. Ia marah sambil bergumam lek diterangke opo ra dirungokke tho wis diterangke bolak balik, plastik harus di atas. Jenazah lalu ditarik mundur dengan kain kafan. Dan posisi plastik tetap berada di atas. Makmur, Sapto, dan Aditomo membungkus jenazah dengan cekatan. Selesai dikafani, seorang kerabat laki-laki bernama Samsul, memohon kepada Aditomo agar membuka kepala jenazah karena ada anggota kerabat lain yang belum datang. Aditomo menjawab ya nanti akan saya buka. Jenazah dibungkus rapat dengan kain kafan di mana ada enam tali melingkar. Wajah jenazah dibungkus dengan kapas panjang. Dan, setelah itu, Aditomo membuka tali ikat jenazah di atas kepala dan memberikan contoh kepada keluarga alamarhum cara membuka wajah jenazah. Kapas dibuka dan ditutupkan kembali. Lalu, jenazah ditutup dengan kain batik. Dan kami pun menunaikan salat jenazah dipimpin oleh Aditomo. Seluruh anggota keluarga almarhum ikut menjalankan salat jenazah.

Selesai salat jenazah, Aditomo dan Samsul berbincang sambil duduk bersila. Saya duduk di seberang mereka. Samsul bertanya berapa biaya perawatan jenazah. Seorang ibu, kerabat almarhum, buru-buru menunjukkan kartu anggota YBS dari almarhum. Lalu Aditomo menghitung sambil mengeluarkan kertas dan menulis: biaya memandikan 75 ribu dan biaya transpot 100 ribu. Setelah itu dengan tenang Aditomo berkata kepada Samsul bahwa soal pembayaran sebaiknya diurus di kantor setelah prosesi pemakaman selesai. Samsul dan beberapa kerabat yang duduk di ruang tamu pun segera mengangguk.

Samsul meminta nasihat kepada Aditomo tentang tahlilan. Mereka mengatakan bahwa mereka sebenarnya tidak ingin memakai kembang dalam pemakaman dan mengadakan tahlilan di rumah. Namun, mereka merasa tidak nyaman dengan warga kampung. Aditomo menjawab bahwa ia sendiri tidak setuju dengan tahlilan. Namun pengalamannya kampung, tahlilan tetap diadakan namun cukup satu kali saja sekedar untuk memenuhi syarat. Setelah itu tidak diadakan sampai seribu harinya. Tidak perlu mengikuti tujuh hari, empat puluh hari, dan seratus hari dan seribu hari. Setelah itu, Samsul meminta saran lagi kepada Aditomo tentang upacara pemakaman. Dengan berterus terang Samsul berkata kepada Aditomo bahwa kematian ayahanda mereka adalah pengalaman pertama bagi keluarganya karena itu ia memohon saran bagaimanakah susunan upacara pemakaman dan apa saja yang harus dipersiapkan. Aditomo menjelaskan dengan pelan dengan memberikan tawaran bahwa YBS bisa memberikan jasa pelayanan untuk hal tersebut. Keluarga almarhum pun setuju dan memesan pembawa acara, nisan, keranda, dan mobil jenazah. Di sini saya melihat bahwa betapa pihak keluarga almarhum sangat tergantung pada YBS dalam menangani perawatan jenazah bahkan dalam hal susunan upacara pemakaman.

Tidak ada komentar: