Minggu, 15 Agustus 2010

Sayur pepaya

Bulan puasa adalah bukan bulan puasa namun bulan penuh makanan. Meminjam istilah tuan slamet thohari, bulan puasa hanyalah bulan di mana orang2 hanya mogok makan besar2an di siang hari. Pada malam hari orang2 akan melihat, mencicip, dan makan aneka makanan dan minuman. Dalam bulan inilah sebuah pesta makan besar dirayakan di segala penjuru negara2 Islam dan di antara komunitas2 Islam di negeri2 eropa dan barat lainnnya. Makanan amat melimpah ruah dan bila kita mau rada jitu, cerdik, dan tekun kita bisa mendapatkan makanan dengan gratis.



Kenangan saya tentang bulan puasa bukan pada kembang api, petasan, dan ibadah ramai2 namun pada semangkuk sayur pepaya. Sayur ini terdiri dari irisan buah pepaya muda, ebi atau udang kecil, cabe rawit, dan kuah santan. Kelezatan sayur ini terletak pada gurih bumbu, asin ebi, gurih kental santan, dan kelembutan rasa irisan pepaya. Ada semacam tradisi aneh di keluarga dan juga di daerah kami bahwa sayur ini akan terasa lezat ketika terus dihangatkan selama tiga hari berturut. Orang2 menyebutnya 'bendrang kates.' Sayur yang telah berumur tiga hari itu, biasanya, akan terhidang di meja makan keluarga. Dan, rebutan pun terjadi antara bapak, mas, dan mbak. Ibu diam menonton dan adik hanya melirik. Nasi hangat hangat, diguyur sayur ini dan lauk ikan asin atau telur dadar yang digoreng dengan minyak kelapa, bukan kelapa sawit lho, betul2 membuat diri terbang ke surga tingkat 17 dan dipijit sepuluh bidadari persia dan cina. duh..duh..duh. Namun kini kenangan itu tinggal kenangan kerna di kota ini tak orang yang sudi memasak, menanak, apalagi menjual sayur pepaya muda. Dan yang menyedihkan, sering membuat saya sedih, setiap kali bercerita tentang sayur pepaya, kawan2 menanggapi terlalu jauh, sejauh planet saturunus, dengan merujuk pada negeri jiran, thailand dan beberapa hiburan khas di sana. Masya Allah.

Tidak ada komentar: