Selasa, 25 Januari 2011

kantor kematian modern

Bab II

Kantor Kematian Modern

Lembaga kematian modern ini mula-mula bertempat di sebuah rumah dalam kompleks Perumahan Sekip. Perumahan ini berlokasi di lingkungan kampus UGM. Lembaga kematian ini sering memberikan jasa untuk merawat jenazah para dosen dari lingkungan universitas terutama dosen-dosen yang telah pensiun dan lanjut usia. Ketua YBS, Mufti Abu Yazid, adalah rohaniwan resmi dengan peran penting membacakan doa pada upacara penghormatan terakhir untuk jenazah guru besar UGM di balairung Universitas Gadjah Mada.

Sejak tahun 2001 lembaga ini memiliki sebuah kantor. Kantor ini berlokasi di sisi selatan Rumah Sakit Umum Dr. Sardjito Yogyakarta. Pembukaan kantor ini diresmikan oleh Gubernur DIY Hamengkubuwono X pada 14 Nopember 2001. Kantor ini adalah terdiri dari dua lantai. Di lantai satu terdapat ruang kerja untuk pegawai administrasi, mushola, dua toilet, tempat wudhu, taman dan kolam, ruang untuk memandikan jenazah dengan meja jenazah terbuat dari semen, garasi mobil, dan kamar istirahat/tidur. Lantai dua dari kantor ini terdiri dari ruang ketua, kepala kantor, sekretaris ketua, ruang rapat

Sebelum memiliki kantor, YBS pernah mengalami kesulitan dalam mengirimkan jenazah ke luar kota. Pada waktu itu YBS merawat jenazah mahasiswa UGM dari Makassar. YBS mengalami kesulitan untuk mensemayamkan jenazah mahasiswa tersebut. Pemilik rumah kos menolak ketika jenazah akan disemayamkan sementara di rumah kos. Pengurus YBS kemudian menitipkan jenazah tersebut di masjid dengan memohon izin lebih dulu kepada pengurus masjid. Keesokan hari pada pagi hari jenazah dikirim ke Makassar dengan pesawat terbang. Setelah memiliki ruang musola, YBS bisa memberikan jasa perawatan jenazah secara lengkap dan bisa mensemayamkan jenazah sementara di musola sebelum dikirim ke luar kota.






Struktur YBS

Pegawai Administrasi

Sama seperti rumah duka (funeral home) di negeri-negeri Barat, lembaga kematian ini memiliki sejumlah pegawai dengan tugas-tugas tertentu. Pegawai kantor dari lembaga kematian ini terdiri dari kepala kantor, sekretaris ketua yayasan, dan dua orang pegawai administrasi, dan satu orang pegawai khusus. Kepala kantor dipegang oleh seorang pensiunan pegawai negeri, mantan pegawai administrasi di Fakultas Geografi UGM. Pada masa awal bergabung dengan YBS ia masih bekerja sebagai pegawai negeri, pegawai administrasi di Fakultas Geografi UGM. Ia juga bekerja sebagai rohaniwan di Rumah Sakit Sardjito Yogyakarta . Selama hampir dua puluh tahun sejak YBS berdiri, ia menjadi asisten dan bekerja bersama dengan Mufti Abu Yazid.

Sekretaris ketua YBS adalah seorang laki-laki muda berusia sekitar 20 tahun dan baru satu tahun bekerja ketika saya melakukan kerja penelitian. Ia adalah lulusan SMU. Ia bekerja di YBS setelah mengirimkan lamaran kerja kepada ketua YBS. Secara teoritis, sekretaris bertugas membantu ketua YBS dalam urusan administrasi seperti mengetik berkas-berkas administrasi dan mempersiapkan catatan kotbah milik ketua YBS. Namun dalam praktik ia melakukan tugas di luar tugasnya seperti memperbaiki komputer dan merawat jenazah.

Ada dua orang pegawai administrasi dan mereka semua adalah perempuan. Pegawai pertama adalah masih muda, baru lulus kuliah dari universitas negeri Yogyakarta namun telah bekerja di YBS sejak masih mahasiswa selama lima tahun. Pegawai lain adalah seorang ibu, lulusan diploma, namun baru bekerja selama dua tahun. Dua orang pegawai ini bertugas untuk menerima tamu, menerima telepon yang memohon pelayanan merawat jenazah, menerima anggota baru, dan menerima iuran bulanan. Pada saat menerima telepon tentang permohonan pelayanan, pegawai ini harus mencatat tiga hal penting yaitu nama almarhum, alamat rumah duka, dan nama dan nomor telepon dari penilpon atau anggota keluarga almarhum guna menjalin komunikasi berikutnya. Setelah itu ia akan menulis di papan pengumuman tugas, menghubungi kepala kantor, dan driver. Pegawai administrasi bertugas menyimpan kuitansi pembelian barang seperti pembelian bensin dan mempersiapkan formulir kuitansi jasa perawatan jenazah. Mereka juga mempersiapkan nisan dari kayu dan menulis nama almarhum, memotong kain kafan dan menumbuk kapur barus.

Ada pula seorang pegawai khusus untuk menagih bea perawatan jenazah. Lembaga kematian ini memang menerapkan kelonggaran untuk pembayaran jasa pelayanan perawatan jenazah antara seminggu hingga dua minggu setelah pemakaman. Sesudah merawat jenazah pegawai lapangan akan menawarkan kepada keluarga almarhum kebutuhan lain seperti peti jenazah, keranda, payung untuk jenazah, jasa mobil jenazah untuk transportasi. Pegawai ini akan mencatat permohonan jasa dan perlengkapan dari keluarga almarhum, mencatat biaya total pada selembar kuitansi, dan menyerahkannnya kepada pegawai administrasi. Tujuh hari kemudian YBS menghubungi keluarga almarhum, menanyakan apakah keluarga akan melakukan pembayaran di kantor YBS atau YBS mengirimkan pegawai ke rumah almarhum untuk mengurus pembayaran. Jika keluarga almarhum menginginkan pegawai YBS datang ke rumah, pegawai khusus YBS akan berangkat dengan membawa kuitansi biaya total perawatan jenazah.

Menurut peraturan kerja di lembaga kematian ini pegawai administrasi masuk setiap hari pada pukul tujuh hingga pukul dua siang pada senin hingga sabtu. Namun pelayahan YBS adalah 24 jam. YBS menyediakan nomor darurat yaitu nomor HP ketua dan nomor HP kepala kantor. Pegawai administrasi mendapatkan gaji tetap setiap bulan sesuai dengan UMR di Yogyakarta.

Perawat Jenazah

Ujung tombak dari lembaga kematian modern di kalangan orang Islam ini adalah pegawai lapangan biasa disebut perawat jenazah. Ada delapan orang pegawai lapangan. Tugas pokok dari pegawai lapangan atau perawat jenazah ini adalah merawat jenazah meliputi memandikan, mengkafani, dan juga sekaligus mensalatkan dan mendoakan jenazah. Pegawai lapangan dari lembaga kematian ini dibagi ke dalam dua kelompok, empat orang laki-laki dan empat orang perempuan. Kelompok laki-laki bertugas merawat jenazah laki-laki sedangkan kelompok pegawai perempuan bertugas merawat jenazah perempuan Kelompok perawat jenazah laki-laki tidak boleh merawat jenazah perempuan demikian pula sebaliknya.

Ada empat orang pegawai laki-laki terdiri dari pensiunan PNS, guru agama, di SMP di Yogyakarta, seorang mantan satpam, seorang guru Bahasa Inggris SMK di Sleman, dan pensiunan PNS dari pegawai kantor Fakultas Geografi UGM. Sementara itu, empat orang pegawai perempuan terdiri dari istri dari kepala kantor dan yang lain adalah tetangga rumah dari kepala kantor. Semua adalah ibu rumah tangga.

Dalam sistem kerja keseharian para pegawai lapangan ini adalah bukan pegawai tetap namun pegawai freelance. Mereka mendapatkan honor berdasarkan pada jumlah perhitungan jam kerja. Honor yang mereka dapatkan adalah lima belas ribu rupiah sekali memandikan jenazah. Para pegawai lapangan ini tidak masuk kerja setiap hari di kantor namun jam kerja mereka adalah dua puluh empat jam dan sewaktu-waktu bisa dipanggil untuk bertugas. Pegawai lapangan laki-laki akan berangkat ke kantor setelah dihubungi oleh kepala kantor. Pegawai perempuan, tidak pernah datang ke kantor tetapi langsung dijemput dari rumah masing-masing oleh seorang sopir, untuk berangkat ke rumah duka. Dalam bertugas pegawai lapangan senantiasa didampingi kepala kantor. Kepala kantor berhubungan dengan keluarga almarhum dalam masalah biaya dan kebutuhan lain untuk pemakaman.


Rohaniwan

Rohaniwan adalah bagian penting dari pelayanan yang diberikan oleh lembaga kematian ini karena terkait erat dengan ritual mendoakan jenazah pada upacara pelepasan jenazah dan pada saat jenazah selesai dimakamkan. Tugas utama rohaniwan adalah memimpin acara pembacaan doa untuk jenazah.

Tugas rohaniwan dirangkap oleh dua orang pegawai lapangan laki-laki dan kepala kantor dan ketua YBS. Tugas sebagai rohaniwan masuk kategori pegawai lapangan atau freelance. Para pengguna jasa yang memerlukan rohaniwan pada umumnya adalah warga dari kompleks perumahan dan di lingkungan tersebut tidak ada kaum atau ulama atau warga tersebut tidak pernah melakukan sosialisasi dengan penduduk .

Rohaniwan YBS cukup profesional dalam bekerja. Ketika tiba di rumah duka, rohaniwan YBS langsung menuju ke tempat jenazah disemayamkan dan langsung menjalankan salat jenazah dengan khusyuk. Kadang ia melaksanakan salat jenazah sendirian sehingga nampak sangat menyolok berdiri di antara pelayat duduk bersila. Kadang pula ia melakukan salat jenazah bersama pelayat lain dengan menjadi imam salat. Ketika mengikuti Masruchan bertugas menjadi rohaniwan, ia sering mengingatkan kepada saya untuk memakai baju rapi dan berwudhu lebih dulu di kantor karena harus ikut menunaikan salat jenazah bersamanya di rumah duka. Ia mengatakan kepada saya bahwa salat jenazah dan mendoakan jenazah dengan khusyuk adalah bagian dari dakwah Islam agar keluarga almarhum merasa tentram dengan masa depan jenazah.

Menurut peraturan dari lembaga kematian ini jika orang yang meninggal adalah anggota dari lembaga kematian, maka, tugas sebagai rohaniwan akan dipegang langsung oleh Mufti Abu Yazid. Di samping itu, sejumlah pihak dari keluarga almarhum terutama dari kalangan terkemuka seperti pejabat pemerintah dan pengusaha dan profesor langsung menghubungi Mufti untuk menjadi rohaniwan dalam upacara pelepasan jenazah.

Dalam pidato pembukaan rohaniwan YBS selalu menyampaikan permohonan maaf atas pelayanan yang kurang maksimal karena ada satu dan dua jenazah yang harus dilayani. Ini adalah pernyataan umum yang sering disampaikan oleh rohaniwan untuk menunjukkan bahwa lembaga kematian ini dibutuhkan oleh banyak pihak dan sangat sibuk, meskipun sebenarnya waktu itu tidak ada jenazah yang sedang diurus. Rohaniwan membuka doa dengan surat al Fatihah. Setelah selesai baru ia membacakan doa dalam Bahasa Arab. Doa tidak saja diucapkan dalam Bahasa Arab namun juga diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia. Mufti, ketua YBS ketika bertugas sebagai rohaniwan memiliki ciri khas membaca doa dalam Bahasa Arab dan kemudian menerjemahkan doa tersebut ke dalam Bahasa Indonesia sehingga hadirin pun mengerti. Rohaniwan mendoakan jenazah dua kali yaitu pada saat pelepasan jenazah dari rumah duka ke pemakaman dan berdoa di tempat pemakaman ketika jenazah selesai dimakamkan. Mufti Abu Yazid mendoakan jenazah secara khusyuk dan diiringi dengan tangis.

Ya Allah sesungguhnya ibu kami saudara kami esti sutartini binti sutarno berada dalam tanggungan dan tali ikatan perlindunganmu maka jagalah ia dari siksa kubur dan siksa api neraka. Sungguh engkau penepat janji dan penegak kebenaran, maka kasihanilah dia, dan hapuskanlah dosanya, karena engkau maha pengampun lagi maha pengasih. Sesungguhnya kami adalah milik allah dan kepadanya kami akan kembali dan kepada tuhan kami, kami akan menghadap Ya Allah Ya Rabbana maka masukkanlah dia di sisimu dalam golongan orang yang berbuat baik, dan tetapkanlah catatan dia ke dalam golongan orang yang paling atas, dan gantilah ia dari orang yang ditinggalkannya, dan jangan engkau halangi kami dari pahalanya, dan jangan pula adakan fitnah buat kami dan dia. Ya Allah Sesungguhnya engkau adalah Tuhannya, engkau yang menciptakan dia, engkau yang memberinya rizki, engkau yang menunjukkan kepada Islam, dan engkau pula yang mencabut ruhnya, serta menguasai lahir dan batinnya, kami memanjatkan pertolongan kepadamu Ya allah karena itu ampunilah dia. Ya Allah Ampunilah Saudara Kami Esti Sutartini binti Sutarmo Ampunilah dia Kasihanilah dia, Sejahterakanlah dia, hapuskanlah dosanya, Muliakan kedatangannya, Luaskan tempat liangnya,...dengan air salju, bersihkan dia dari dosa-dosa sebagaimana engkau bersihkan pakaian putih dari kotoran. Ya Allah Ya rabbbana masukkanlah dia ke dalam surgamu serta lindungilah dia dari azab kubur. Ya Allah ampunilah orang-orang yang hidup di antara kami, orang-orang yang sudah mati di antara kami, orang2 cacat di antara kami, orang2 kecil di antara kami baik pria maupun wanita yang hadir maupun yang gaib. Hadirin marilah kita bersama-sama hantarkan dengan membaca bismillah wa ala millati rasul lillah


Driver

Hal menarik dari kegiatan kerja di lembaga kematian ini terkait dengan aktifitas kerja rutin dari sopir-sopir mobil jenazah. Selama magang di lembaga kematian ini saya merasakan bahwa sebutan sopir dirasakan kurang berkenan dan bahkan tidak sopan. Oleh karena itu kata sopir digantikan dengan kata dari Bahasa Inggris driver. Driver mencerminkan penghormatan dan memberikan pengertian bahwa sopir di kantor dari lembaga kematian ini bukan sekedar seorang sopir namun pegawai yang bekerja professional dalam memberikan pelayanan dalam mengantarkan jenazah ke tempat pemakaman dan ke luar kota.

Ada tiga driver di lembaga kematian ini. Mereka adalah Toyib, Tembong, dan Prapto. Toyib dan Tembong telah lama bekerja di YBS kurang lebih selama dua puluh tahun lebih. Kedua orang ini direkrut oleh Mufti. Karena YBS adalah sebuah yayasan dan tidak bisa memberikan gaji yang cukup besar maka Mufti merekrut mereka dengan cara mengajak mereka untuk bekerja dengan niat ibadah membantu sesama muslim. Sistem kerja mereka sama seperti pegawai lapangan yaitu freelance. Mereka tidak mendapatkan gaji tetap namun tergantung pada jumlah permintaan untuk mengantarkan jenazah dengan mobil jenazah. honor yang didapatkan oleh mereka sekali menjalankan tugas adalah lima belas ribu rupiah. Namun demikian, mereka sering juga mendapatkan uang saku dari keluarga almarhum.

Berbeda dengan kedua orang di atas, Prapto bergabung ke YBS lebih karena kesetiaan kepada Mufti. Sebelum bekerja di YBS, Prapto bekerja di UII sebagai sopir dinas Mufti. Pada waktu itu Mufti menjadi Pembantu Rektor di perguruan tinggi Islam. Prapto sangat menikmati profesinya. Ia bekerja tekun, penuh semangat, dan sangat hormat kepada Mufti. Ketika saya mempersoalkan gaji, ia menegaskan bahwa ia tidak pernah peduli dengan urusan gaji karena ia yakin bahwa apa yang ia kerjakan pasti akan mendapat balasan dari Allah. Ia menegaskan bahwa Allah akan memudahkan pintu rezeki pada keluarga dan juga yang paling penting memudahkan urusan-urusan penting dalam keluarganya.

Selain itu driver memiliki tugas wajib untuk mencuci mobil jenazah setiap kali mobil jenazah selesai digunakan untuk mengantarkan jenazah Setiap kali selesai mengantarkan jenazah meskipun hanya beberapa berjarak tiga kilometer, mobil wajib dicuci dengan bersih. Menurut Prapto jika mobil tidak dibersihkan maka hal-hal gaib akan melekat pada mobil jenazah. Ini bisa mengganggu kinerja mobil selanjutnya. Mobil jenazah milik YBS memang nampak sangat bersih, sangat terawat, dan berbeda dengan mobil jenazah.

Keanggotaan

Sejak tahun 1994 lembaga kematian ini menerapkan sistem keanggotaan dalam menjalankan aktifitas kerja pelayanan perawatan jenazah. Hingga Januari 2010 jumlah anggota YBS tercatat 5774. Ada empat klasifikasi dan iuran anggota. Klasifikasi pertama adalah kelompok A yakni usia 61 tahun ke atas dengan iuran minimal Rp.5000 per bulan. Kelompok B usia 41-60 tahun dengan iuran minial 4000 per bulan. Kelompok C usia 21-40 tahun dengan iuran 3000 per bulan. Kelompok D usia 0-21 tahun dengan iuran minimal 2000 per tahun. Maksud dari iuran minimal adalah para anggota boleh memberikan iuran yang lebih besar. Untuk memudahkan urusan administrasi, beberapa anggota YBS biasanya membayar iuran tidak setiap bulan namun langsung untuk satu tahun. YBS dan anggota membentuk atau memilih sesorang, baik bapak ataupun ibu, sebagai perwakilan YBS di beberapa kompleks perumahan guna memberikan kemudahan bagi para anggota dalam melakukan pembayaran. Wakil tersebut akan mengumpulkan sumbangan rutin dan mencatatnya dari anggota YBS di lingkungan sekitar tempat tinggalnya dan kemudian menyerahkan uang yang terkumpul kepada kantor YBS.

Keanggotaan disusun dengan rapi dengan menggunakan nomor anggota. Nomor anggota benar-benar dibuat secara modern dan sistematis. Nomor anggota yayasan ini terdiri dari sembilan digit yang terbagi menjadi tiga kelompok. Antara kelompok pertama dengan kelompok kedua dan antara kelompok kedua dengan kelompok ketiga dipisahkan dengan tanda titi (.). Kelompok pertama berarti tahun mendaftar. Kelompok kedua berarti daerah asal (Kabupaten/Kota dan Kecamatan). Kelompok ketiga berarti nomor urut anggota. Susunan nomor anggota sebagai berikut XXX.XXX.XXX. Contoh Nomor Anggota, 206.513.500. 206 berarti mendaftar tahun 2006. 5 berarti dari Kabupaten Kulon Progo. 13 berarti Kecamatan Tepus. 500 berarti nomor urut anggota ke-500. Dari sistem pencatatan anggota yang dibuat secara detil ini menunjukkan bahwa lembaga kematian ini benar-benar merupakan lembaga modern.

Jaringan YBS : Rumah Sakit, Tempat Pemakaman, dan Donatur

Baik YBS, sebagai sebuah lembaga kematian Islam, maupun Ketua YBS, Mufti Abu Yazid, dikenal oleh pihak rumah sakit di Yogyakarta. YBS sering diminta oleh sejumlah keluarga dan pihak rumah sakit untuk merawat jenazah di rumah sakit. Selama magang di YBS saya beberapa kali bertugas merawat jenazah di sejumlah rumah sakit yaitu Rumah Sakit Dr. Sardjito, Jogja International Hospital dan RS Bethesda. Pegawai lapangan mengenal baik seluk beluk kamar jenazah seperti lokasi, prosedur administrasi, cara membuka pintu, almari, dan segala peralatan. Ia juga mengenal petugas di kamar jenazah di sejumlah rumah sakit.

Di setiap kota terdapat kantor khusus untuk mengelola taman pemakaman umum yaitu dinas pemukiman dan prasarana wilayah. Kantor ini memberikan dua jenis pelayanan yaitu penyediaan tanah makam dan jasa pemakaman. Penyediaan tanah makam meliputi tanah makam yang langsung digunakan dan tanah makam cadangan sedangan jasa pemakaman meliputi penggalian makam, pemasangan plakat makam dan pusara makam, dan penggunaan kendaraan jenazah.

YBS memiliki hubungan dengan Dinas Pemukiman dan Prasarana Kabupaten Sleman . Pemerintah Sleman menyediakan tanah pemakaman luas. Mereka memberikan ijin bagi warga pendatang untuk dimakamkan di tanah pemakaman tersebut. YBS memberikan bantuan jasa kepada warga yang belum memiliki tanah pemakaman dalam hal membantu mengurus tanah pemakaman kepada pejabat instansi tersebut. Tanah pemakaman ini tidak gratis namun harus membeli dan membayar retribusi. Jasa penting YBS di sini adalah keluarga almarhum akan mendapatkan harga standard dan tidak digebuk harga oleh birokrasi.










DAFTAR PELAYANAN YBS RINCIAN BIAYA

1. Iuran anggota minimal Rp.30.000 per tahun
2. Perawatan jenazah Rp.400.000
3. Peti pinjam Rp.75.000
4. Peti Beli Rp.500.000-Rp.10.000.000
5. Maejan/Papan Nisan Rp.100.000
6. Ambulans
- Buka Pintu Ambulans Rp.50.000
- per 1 km Rp.5000
7. Rohaniwan Rp.100.000
8. Peralatan Mandi sudah masuk dalam biaya perawatan jenazah
9. Tenda tergantung negosiasi
10. Kursi negosiasi
11. Sound System negosiasi



Keberadaan dari lembaga kematian ini bisa dikatakan terkait erat dengan bantuan dari donatur. Terdapat hubungan saling menguntungkan antara di antara mereka. Donatur penting YBS di samping individu atau perorangan adalah perusahaan swasta dan instansi pemerintah. Semua mobil jenazah YBS diperoleh bukan dari anggaran pembelian namun dari sumbangan donatur. Tiga mobil jenazah berupa mobil ambulans didapatkan dari perusahaan swasta dan satu mobil colt untuk penumpang berasal dari sumbangan Bank Indonesia. Di tiap-tiap mobil jenazah tersebut ada nama donatur. Pegawai YBS menamakan mobil tersebut sesuai dengan nama donatur.

Mobil jenazah pertama adalah Mitsubitsi L-3000. Mobil ini sumbangan dari PT Tugu Pratama Indonesia, perusahaan asuransi milik pengusaha Bob Hasan. Mobil ini diserahkan pada tahun 1998.

Mobil Jenazah kedua adalah Mitsubitsi L-300 sumbangan dari Ketua Partai Amanat Nasional (PAN), Amin Rais. Pemberian sumbangan mobil ini bersamaan dengan pencalonan Amin Rais dalam Pemilu Presiden sehingga turut membantu kampanye politik, namun YBS tetap netral secara politik karena urusan utama dari lembaga ini adalah urusan kematian.

Sedangkan Mobil Ambulans ketiga adalah Mitsubisi Diesel Besar sumbangan dari PT BP Kedaulatan Rakyat, harian terkemuka di Yogyakarta. Penyerahan mobil ketiga ini dimuat dalam fitur yang cukup besar dalam koran Kedaulatan Rakyat. Mobil ambulans diserahkan oleh Walikota Yogyakarta kepada ketua YBS, Mufti Abu Yazid, dan disaksikan oleh Ketua PT BP Kedaulatan Rakyat, R. Wonohito. Harian Kedaulatan Rakyat memberitakan bahwa Mufti Abu Yazid tampak bahagia menerima sumbangan ini. Karenanya usai menerima kontak mobil tersebut ia langsung melakukan Sujud Syukur tanpa alas selembar pun. Sementara pada hadirin terpana. Ada sebuah foto ukuran besar merekam Mufti Abu Yazid melakukan Sujud Syukur tersebut. YBS juga memiliki mobil penumpang, Mitsubisi, sumbangan dari instansi pemerintah yaitu Bank Indonesia Yogyakarta.

Infrastruktur YBS

Sebagai lembaga kematian modern, YBS memiliki ruangan khusus dan peralatan lengkap untuk memandikan jenazah. Namun ruangan tidak bisa difungsikan karena sejumlah tetangga dari warga Dusun Sendowo merasa keberatan jika kantor YBS digunakan sebagai tempat untuk memandikan jenazah. Warga merasa keberatan dengan limbah dari air yang digunakan untuk memandikan jenazah. Warga sekitar merasa tidak nyaman dengan jenazah. Lagi pula sebelah barat kantor YBS adalah sebuah kompleks pemakaman tua, dan sebelah utara adalah kamar jenazah dari Rumah Sakit Sardjito. Oleh karena itu, pegawai YBS memandikan jenazah di rumah keluarga almarhum atau di kamar jenazah dari sejumlah rumah sakit di Yogyakarta. Ruangan ini kemudian beralih fungsi menjadi gudang. Di dalam ruangan tersebut ada lima peti jenazah besar dan perlengkapan lain seperti keranda jenazah, payung jenazah, nisan dari kayu dan kain penutup jenazah.

Musola

Musola di kantor YBS digunakan bukan saja sebagai tempat menunaikan salat dan berdoa akan tetapi juga untuk mensalatkan dan mendoakan jenazah. Mushola digunakan pula untuk tempat mensemayamkan jenazah. Hal ini dilakukan jika jenazah akan dikirim ke luar kota atau rumah dari almarhum terlalu sempit. Musola ini juga digunakan sebagai tempat pengajian Khusnul Khotimah membahas tentang ibadah disampaikan oleh seorang ustad dan juga pengajian Sekar Telasih membahas tentang kesehatan disampaikan oleh seorang dokter dan psikiater.

Hal paling penting untuk memahami YBS adalah lembaga ini bukan saja yayasan kematian namun juga suatu lembaga administrasi. Di ruang administrasi terdapat dua buah meja, satu set komputer dan printer, rak buku tempat menyimpan daftar dan identitas anggota YBS, papan tulis kecil dan telepon. Sementara itu, di depan pintu masuk musola berdekatan dengan ruang administrasi terdapat sebuah televisi besar berukuran 21 inci untuk hiburan pegawai. Televisi digantung di atas dengan menggunakan palang besi. Ruang ini digunakan untuk pendaftaran anggota baru dan iuran rutin setiap bulan. Di ruang ketua terdapat meja besar dan kursi, satu set meja dan kursi untuk menerima tamu, dan rak buku. Di ruang kepala kantor terdapat meja dan kursi. Di ruang sekretaris ketua terdapat seperangkat meja dan kursi dan juga seperangkat komputer dan printer. Di lantai satu, dekat ruang memandikan jenazah, terdapat meja untuk tempat mesin telepon. Dan di sisi atas terdapat papan untuk menulis daftar piket dan rak kecil untuk kunci mobil jenazah. Musola dilengkapi dengan kipas angin besar dan seperangkat sound system.

Peti jenazah

Sama seperti rumah duka (funeral home) di Barat dan di kalangan etnis Tionghoa di Indonesia, lembaga kematian ini juga menyediakan jasa peti jenazah. Ada dua tipe peti jenazah yaitu peti untuk dijual dan peti untuk disewakan. Peti jenazah dijual dengan harga bervariasi mulai dari lima ratus ribu dengan hiasan dan ukiran sederhana, hingga sepuluh juta rupiah dengan ukiran dan hiasan mewah dan kayu bermutu tinggi. Peti jenazah disewakan dengan harga tujuh puluh ribu rupiah.

Peti jenazah sangat penting digunakan untuk mengantarkan jenazah ke luar kota. Untuk kalangan tertentu seperti pejabat sipil, militer, dan para pengusaha terkemuka di Yogyakarta, peti jenazah sangat penting sebagai satu cara untuk memberikan penghormatan pada jenazah. Peti diberi hiasan dengan sangat indah. Dengan menempatkan jenazah pada sebuah peti, maka para pelayat, bisa melihat dan memberikan penghormatan kepada jenazah.

Lembaga kematian ini memiliki toko langganan yaitu pembuat peti jenazah di Kulon Progo. Jika stok peti jenazah habis, lembaga kematian ini akan mengambil peti jenazah pada pengusaha tersebut. Namun kadang YBS mendapatkan peti jenazah dari keluarga almarhum yang tidak menguburkan jenazah dengan peti mati, dan mewakafkan peti jenazah tersebut kepada YBS

Di samping peti jenazah, YBS juga menyediakan keranda. Keranda ini tidak dijual namun disewakan. Berbeda dengan peti jenazah keranda lebih sederhana dan mudah untuk diangkat. Keranda YBS adalah terbuat dari besi dengan empat pegangan dan sebuah penutup berbentuk setengah lingkaran yang memanjang. Keranda jenazah ini tidak dijual namun disewakan dengan harga sewa tujuh puluh ribu rupiah. Di atas keranda diselimuti dengan kain turup, berwana hijau dan terdapat tulisan dalam Bahasa Arab La Illaha Illa Allah. Tiada Tuhan Selain Allah.

Kain Kafan

Ada banyak persediaan kain kafan di kantor dari lembaga kematian ini. Hal ini karena lembaga ini menerima permintaan untuk melayani perawatan jenazah dalam satu hari sekitar satu hingga delapan jenazah. Karena itu, penting bagi YBS memiliki banyak persediaan kain kafan. YBS membeli kain kafan di toko langganan di Pasar Beringharjo. Toko mengirimkan lima pis kain kafan. Lima pis kain kafan sama dengan lima bundel. Satu pis kain kafan digunakan untuk memenuhi kain kafan tiga jenazah. Jadi, lima pis kain kafan bisa digunakan untuk mempersiapkan kafan kafan untuk lima belas jenazah. Pegawai YBS memotong kain kafan tersebut. Ia menyusun kain kafan menjadi sebuah buntalan terdiri dari tiga lapis kain, satu lembar plastik dan sejumlah tali untuk mengingkat. Kain kafan tidak dijual terpisah namun masuk dalam penghitungan jasa memandikan jenazah sebesar empat ratus ribu rupiah.

Meja Jenazah

Salah satu peralatan penting untuk memberikan perawatan jenazah orang Islam adalah meja untuk memandikan jenazah. Lembaga kematian ini memiliki satu meja untuk memandikan jenazah. Meja ini memiliki empat roda sehingga mudah untuk didorong dan dipindahkan dan juga dibawa ke tempat lain. Meja jenazah memiliki penampung air dan saluran untuk mengeluarkan air kotor. Meja jenazah digunakan secara khusus untuk memandikan jenazah di rumah. Meja jenazah selalu diletakkan di belakang bak dari mobil pick up yang ditutup dengan kain terpal permanen dan tebal. Meja jenazah tidak disewakan secara terpisah namun masuk dalam penghitungan jasa memandikan jenazah sebesar empat ratus ribu rupiah.

Mobil Jenazah

Mobil jenazah adalah perlengkapan penting dari aktifitas kerja sehari-hari di lembaga kematian ini. Hal ini karena tempat pemakaman di kota terletak sangat jauh dari area pemukiman. Lembaga kematian ini memiliki lima kendaraan operasional terdiri dari tiga mobil ambulans, satu mobil penumpang, dan satu mobil pick up. YBS tidak membeli mobil-mobil tersebut namun mendapatkankannya melalui sumbangan dari para donatur. Karena itu, di setiap mobil ambulans tersebut terdapat nama perusahaan yang memberikan sumbangan kendaraan tersebut.

Salah satu kegiatan rutin dan penting dari lembaga ini adalah lembaga ini juga menerima permohonan jasa untuk mengantarkan jenazah ke luar kota dengan mobil jenazah. Dalam pelayanan pengiriman jenazah ini, lembaga kematian ini juga menerima permohonan pengiriman jenazah dari orang-orang non-muslim. Biaya untuk mengantarkan jenazah ke luar kota adalah lima rupiah per kilometer. Mobil jenazah dari lembaga kematian ini pernah mengirimkan jenazah ke sejumlah kota di Jawa Tengah dan di Jawa Timur seperti Kudus, Lasem, Pekalongan, Ponorogo, Sumenep, Jakarta dan bahkan hingga ke luar Jawa seperti Lampung, Bengkulu, dan Pekanbaru. Jasa rutin lain dari lembaga ini di samping mengantarkan jenazah adalah menjemput jenazah di Bandar Udara Adi Sucipto yang dikirimkan dari luar propinsi dengan pesawat udara.

Ada pula sebuah mobil pick up digunakan untuk membawa meja pemandian jenazah, selang, ember, dan peralatan mandi. Kendaraan-kendaraan operasional di YBS ditangani oleh tiga orang driver seperti telah dijelaskan di atas.

Program Pelayanan YBS

Perawatan Jenazah

Permohonan jasa untuk merawat jenazah disampaikan oleh kerabat almarhum melalui telepon. Pegawai administrasi mula-mula menjawab dengan menyampaikan bela sungkawa. Ia kemudian menanyakan tiga hal penting. Pertama menanyakan nama almarhum dan apakah almarhum anggota Selasih. Kedua, alamat rumah almarhum. Ketiga nama dan nomor telepon dari penilpon atau pemohon untuk konfirmasi lebih lanjut. Setelah itu pegawai administrasi akan menghubungi kepala kantor dan menyerahkan sebuah catatan berisi tiga hal penting tersebut. Lalu kepala kantor akan menghungi para perawat jenazah melalui sms dan kadang telepon. Setelah itu perawat jenazah akan berkumpul di kantor dan kadang dijemput di rumah masing-masing lalu menuju ke rumah duka.

Tiba di rumah duka, pegawai lapangan menemui salah seorang dari anggota keluarga almarhum untuk perkenalan dan langsung mendiskusikan satu tempat di mana jenazah akan dimandikan dan disemayamkan sementara. Setelah tempat memandikan disepakati, pegawai YBS menata tempat memandikan jenazah dan menutupnya dengan kain besar. Pegawai YBS lain menata kain kafan, mempersiapkan perlengkapan untuk jenazah seperti kapur barus dan kapas dan perlengkapan mandi seperti sabun, sampo, handuk, dan kain batik. Pada saat jenazah akan dimandikan, pegawai YBS akan mengajak anggota keluarga ikut memandikan jenazah. Selesai dimandikan jenazah dikeringkan dengan handuk. Jenazah kemudian dibungkus dengan kain kafan. Setelah itu, pegawai YBS mesalatkan dan mendoakan jenazah bersama-sama anggota keluarga. Setelah perawatan jenazah selesai, pegawai YBS akan menanyakan kebutuhan perlengkapan upacara pemakaman.

Dalam menjalankan tugas rutin di lapangan, ada tiga hal penting senantiasa ditawarkan kepada keluarga almarhum, yaitu peti jenazah atau keranda, maejan atau nisan, dan rohaniwan. Pegawai dari lembaga kematian ini akan menjelaskan daftar harga secara lengkap. Sebagian besar pengguna jasa atau keluarga almarhum memilih untuk menyewa peti mati, memesan maejan, dan rohaniwan. Rohaniwan adalah orang dengan tugas khusus mensalatkan dan juga mendoakan jenazah pada saat pemberangkatan dan pada saat di pemakaman.

Perawatan jenazah sedikit berbeda jika jenazah dilakukan di rumah sakit. Pegawai YBS tidak menuju ke rumah duka namun langsung menuju di rumah sakit. YBS dikenal oleh rumah-rumah sakit di Yogyakarta. Ketika bertugas merawat jenaza di RS Sardjito dan JIH, saya melihat pegawai dari kedua rumah sakit tersebut mengenal mobil jenazah YBS dan pegawai YBS. Mobil jenazah YBS bebas bea parkir. Sebaliknya, pegawai lapangan YBS mengenali seluk beluk kamar jenazah. Pegawai YBS dikenal oleh pertugas kamar jenazah di Rumah Sakit Sardjito, Rumah Sakit Panti Rapih, Rumah Sakit Bethesda, dan Rumah Sakit Jogja International Hospital (JIH) sebagai perawat jenazah orang Islam.

Tiba di Rumah Sakit, seorang pegawai YBS akan mengurus administrasi dan mengambil jenazah dari kamar perawatan untuk dibawa ke kamar jenazah. Pegawai lain masuk ke kamar jenazah untuk menata kain kafan dan mempersiapkan perlengkapan perawatan jenazah. Tiba di kamar jenazah, jenazah diletakkan di meja pemandian. Sebelum jenazah dimandikan, pegawai YBS mengajak pihak keluarga untuk ikut memandikan jenazah. Meja pemandian jenazah di rumah sakit memiliki peralatan lengkap seperti shower air, saluran pembuangan air, tempat sampah, dan tempat baju kotor. Dalam memandikan jenazah, pegawai YBS mewudhukan jenazah lebih dahulu, dan kemudian jenazah dimandikan. Selesai dimandikan, jenazah dikeringkan dengan handuk kemudian dibungkus dengan kain kafan. Tidak ada ruang untuk mensalatkan jenazah di sejumlah rumah sakit di Yogyakata kecuali di Rumah Sakit Jogjakarta International Hospital (JIH) di Sleman. Di sini kamar jenazah dilengkapi dengan ruangan luas untuk melaksanakan salat jenazah lengkap dengan tempat wudhu dan toilet. Sama seperti di rumah duka, pegawai YBS juga akan menanyakan kebutuhan perlengkapan untuk upacara pemakaman seperti peti atau keranda, maejan, rohaniawan, dan mobil ambulans.

Merawat Jenazah Mohammad Hosen

Saya dan pegawai lapangan YBS mendapat tugas merawat jenazah dari anggota YBS. Perawat jenazah yang bertugas adalah Aditomo, Makmur, dan Sapto dan seorang driver bernama Maulana. Kami berangkat pada sore hari pukul tiga siang. Almarhum beralamat di sebuah kompleks perumahan yaitu di Dusun Tiyasan, Desa Catur Tunggal, Kecamatan Depok, Sleman. Almarhum adalah anggota YBS dari bulan Juli 2008, bernama Mohammad Hosen dengan umur 81 tahun dan nomor anggota 208.202.321.

Kami berangkat dengan mobil pick up. Saya duduk di belakang Sapto dan berhimpitan dengan meja jenazah. Aditomo dan Makmur duduk di depan. Mobil melaju kencang. Kami sampai di suatu dusun di mana sebagian pekarangan telah berubah menjadi perumahan. Kami tiba di rumah duka. Sebuah perumahan tingkat menengah. Rumah almarhum bersebelahan dengan rumah-rumah penduduk asli dan berhimpitan langsung dengan rumah rumah ketua RT. Kediaman ketua RT sangat sederhana dan jauh jika dibandingkan dengan perumahan tersebut. Sebelah selatan dari rumah almarhum adalah deretan rumah warga perumahan. Sebelah timur dari rumah almarhum adalah rumah penduduk setempat.

Ketika tiba di kediaman almarhum tidak ada tetangga melayat. Ini suasana khas di sejumlah perumahan ketika terjadi peristiwa kematian. Ada empat anak kecil bermain di pinggir jalan mencoba mengintip kegiatan kami. Di ujung jalan masuk menuju perumahan ada bendera warna putih. Seorang bapak berdiri di depan rumah duka. Ia adalah ketua RT, nampak serius dalam menunggu kedatangan kami. Aditomo turun dari mobil dan disambut ketua RT bersama dua orang laki-laki dari keluarga almarhum.

Saya turun dari mobil dan membawa tas ransel berisi kain kafan dan perlengkapan untuk merawat jenazah, masuk ke dalam rumah dan meletakkan tas tersebut di ruang tamu. Aditomo dan keluarga almarhum nampak berbincang tentang tempat memandikan jenazah, dan tempat jenazah akan disemayamkan. Percakapan dilakukan sambil berjalan menuju ke kamar tempat jenazah dibaringkan. Makmur membuka tas ransel, menyiapkan kain kafan, kapas, bubuk kapur barus, dan kayu cendana. Lalu Makmur dan Sapto menata kain kafan di atas karpet di ruang tamu.

Setelah melihat halaman rumah, Aditomo memberitahu Maulana bahwa jenazah dimandikan di depan garasi. Maulana dan saya segera menurunkan meja jenazah untuk memandikan jenazah. Kami memasang tirai untuk melindungi jenazah dan ritual memandikan jenazah dari tatapan pihak lain. Maulana dengan cekatan memasang tirai di sisi luar dan di sisi kanan dan mengikatkan tali tirai pada tiang beton dari halaman depan rumah. Di sisi kiri terdapat tembok, sementara di sisi belakang terdapat pintu garasi. Maulana mengambil dua timba dan mengisi air. Kemudian saya menggantikan tugas tersebut. Saya mengambil ember kecil dan menuangkan separuh air. Saya mengambil bubuk kapur barus dan menuangkannya ke dalam timba berisi air tersebut. Dua timba besar berisi air dan satu ember kecil berisi air kapur barus telah siap. Saya lalu menyiapkan sabun dan sampo dan meletakkan di sisi dipan. Satu timba kosong saya siapkan sebagai tempat untuk baju-baju kotor dari jenazah. Handuk dan kain batik saya siapkan di atas kursi di dekat meja jenazah.

Aditomo bertanya kepada keluarga apakah ada sebuah dipan tempat tidur untuk tempat mensemayamkan jenazah sementara. Seorang ibu, keluarga almarhum, menunjukkan dipan besar, dekat tempat tidur jenazah. Saya dan Maulana mengangkat dipan tersebut dan meletakan di ruang tamu. Kami meletakkan dipan ruang tamu. Sebuah kasur diambil oleh seorang ibu dari kerabat almarhum dan diletakkan di atas dipan. Kasur ditutup dengan selimut.

Kami bersiap memandikan jenazah. Aditomo, Makmur, dan Sapto mengenakan sarung tangan dan kain anti air. Dua orang laki-laki dari kerabat almarhum ikut bergabung. Kami bersiap mengangkat jenazah. Tubuh jenazah sangat besar. Jenazah wafat karena menderita stroke. Tubuh jenazah sangat berat hingga membutuhkan lima orang untuk mengangkat dan meletakkan di atas meja jenazah. Maulana, dua kerabat, Sapto, dan saya bersama-sama menggotong jenazah dan meletakkannya di atas meja jenazah. Namun, Maulana segera pergi dan ia tidak ikut memandikan jenazah karena tidak berani. Aditomo menggunting pakaian jenazah, saya menerima baju jenazah meletakkan di timba.

Dua anggota keluarga almarhum ikut memandikan jenazah. Seorang di antara mereka, Samsul, bertanya kepada Aditomo tentang doa memandikan jenazah. Aditomo tersenyum dan menjawab, “cukup membaca bismillah saja”. Karena mengerti bahwa dua anggota keluarga ini sangat kritis, Aditomo kemudian menerangkan kepada mereka tentang tata cara memandikan jenazah. Aditomo menjelaskan bahwa pertama-tama jenazah diistinja terlebih dulu atau disucikan. Kedua, jenazah diwudhukan dan ketiga jenazah dimandikan dan terakhir diwudhukan lagi. Sebelum memandikan jenazah, semua orang yang akan memandikan jenazah wajib memakai sarung tangan dan celemek melindungi badan dari percik dan siraman air.

Jenazah dimandikan. Aditomo memegang selang dan menyiramkan air. Pertama-tama ia melakukan istinja pada jenazah. Ia mengarahkan selang pada aurat jenazah. Sapto dan Makmur membantu dengan menekan perut jenazah untuk mengeluarkan kotoran. Setelah itu, Aditomo memwudhukan jenazah dan kemudian memberikan ada aba-aba kepada kami bahwa jenazah siap dimandikan.

Aditomo mempersilahkan kepada dua kerabat untuk membersihkan rambut jenazah dengan sampo. Aditomo juga mengarahkan mereka mengusapkan sabun pada tubuh jenazah, bersama Makmur dan Sapto. Saya dengan cekatan membersihkan kedua kaki jenazah dengan sabun. Aditomo menyuruh saya membilas air dengan gayung pada kaki jenazah. Saya menyiramkan air beberapa kali. Aditomo meminta saya mengguyurkan air dengan cepat. Tubuh jenazah dimiringkan ke kanan dan ke kiri untuk membersihkan punggung. Makmur dan Sapto dengan cepat mengusapkan sabun, Aditomo sangat cepat menyiramkan air. Dua anggota kerabat almarhum pada akhirnya lebih banyak diam, berdiri, dan melihat. Mereka mengalami kesulitan memandikan jenazah. Sabun dari tangan mereka sering lepas lalu jatuh.

Setelah selesai memandikan jenazah, Aditomo mewudhukan jenazah dan menyiramkan air kapur barus. Jenazah dikeringkan dengan handuk. Namun, mendadak, Aditomo meminta keran air dibuka. Saya begegas membuka keran. Aditomo mengarahkan selang air ke mulut jenazah dan hidung jenazah untuk membersihkan darah yang masih keluar. Setelah selesai keran saya tutup kembali. Saya kembali ke sisi jenazah dan mengeringkan tubuh jenazah. Aditomo dan pegawai YBS dan dua kerabat almarhum melepaskan sarung tangan plastik dan melemparkan ke timba untuk baju kotor. Saya ambil kain batik dan menyerahkannya kepada Aditomo. Saya letakkan kain batik yang basah ke timba untuk baju kotor.

Tubuh jenazah telah kering. Aditomo menutup hidung jenazah dan telinga jenazah dengan kapas. Lalu, jenazah tutup rapat dengan kain batik dan siap diangkat ke ruang tamu. Makmur dan Sapto menempelkan kapas yang telah ditaburi bubuk kapur barus pada kedua kaki jenazah lutut, dan badan. Lalu jenazah dibungkus kain kafan. Makmur, Sapto, dan Aditomo membungkus jenazah dengan cekatan. Selesai dikafani, seorang kerabat laki-laki bernama Samsul, memohon kepada Aditomo untuk membuka kepala jenazah karena ada anggota kerabat lain belum datang. Jenazah dibungkus rapat dengan kain kafan dengan enam tali melingkar. Wajah jenazah dibungkus dengan kapas panjang. Atas permintaan keluarga almarhum, Aditomo membuka tali ikat jenazah di atas kepala. Jenazah ditutup dengan kain batik. Kami menunaikan salat jenazah dengan Aditomo sebagai imam. Semua anggota keluarga almarhum turut menunaikan salat jenazah.

Selesai salat jenazah, Aditomo dan Samsul bercakap-cakap sambil duduk bersila. Samsul bertanya tentang biaya perawatan jenazah. Seorang ibu buru-buru menunjukkan kartu anggota YBS dari almarhum. Aditomo melihat kartu anggota YBS almarhum. Almarhum belum genap satu tahun menjadi anggota dan artinya harus membayar biaya tambahan. Aditomo mengeluarkan secarik kertas dan menulis: biaya tambahan perawatan jenazah 75 ribu dan biaya transportasi 100 ribu. Setelah itu Aditomo berkata pelan kepada Samsul bahwa soal pembayaran sebaiknya diurus di kantor setelah semua urusan pemakaman selesai. Samsul dan beberapa kerabat pun mengangguk lega.

Samsul meminta saran kepada Aditomo tentang tahlilan. Mereka mengatakan bahwa mereka sebenarnya tidak ingin mengikuti adat seperti memakai kembang dalam pemakaman dan mengadakan tahlilan di rumah. Namun, mereka sangat segan dengan warga desa. Aditomo memberikan nasehat bahwa ia sendiri sesungguhnya tidak setuju dengan tahlilan. Lalu ia menceritakan pengalamannya di kampung di mana ia hanya mengadakan tahlilan satu kali dalam suatu acara kematian. Ia lalu memberi saran agar keluarga almarhum tetap mengadakan tahlilan namun hanya satu kali dengan suguhan makanan sederhana. Tujuan adalah sekedar untuk memenuhi syarat.

Samsul meminta saran kepada Aditomo tentang upacara pemakaman. Dengan berterus terang Samsul menceritakan pada Aditomo bahwa kematian ayah mereka adalah pengalaman pertama dalam urusan kematian. Ia meminta saran bagaimanakah susunan upacara pemakaman dan apa saja yang harus dipersiapkan. Lalu Aditomo menjelaskan tentang susunan upacara pemakaman. Ia menjelaskan kepada Samsul bahwa upacara pemakaman terdiri dari rangkaian pidato mulai dari wakil dari keluarga, wakil dari kelurahan, ketua RT, dan pembacaan doa dari pak kaum atau kiai dari desa setempat. Aditomo menawarkan sejumlah perlengkapan jasa untuk upacara pemakaman kepada Samsul. Samsul memilih untuk memesan pembawa acara, nisan, keranda, dan mobil jenazah. Di sini saya melihat bahwa pihak keluarga almarhum sangat tergantung pada YBS dalam menangani perawatan jenazah dan susunan upacara pemakaman.

Lembaga kematian ini menjadi bagian penting di lingkungan universitas dalam urusan kematian. Lembaga ini merawat jenazah sejumlah dosen. Sebagian besar di antara mereka telah pensiun dan tinggal di kompleks perumahan kampus, di Perumahan Sekip dan Perumahan Bulaksumur. Ketua YBS rutin bertugas sebagai rohaniwan, orang yang membacakan doa, dalam upacara resmi penghormatan terakhir dan pelepasan guru besar di aula agung universitas. Di lingkungan profesional ini peran penting Mufti sangat menonjol. Ia mendoakan jenazah dengan khusyuk.

Jaminan kepastian bahwa jenazah akan dirawat diberikan oleh lembaga ini. Lembaga ini memberikan rasa tenang kepada orang-orang lanjut usia dalam menunggu kematian mereka. Ketika mereka mati, jenazah mereka akan diurus dengan baik oleh YBS. Dalam lingkup kehidupan modern di daerah perkotaan lanjut usia adalah masa kritis secara sosial (Kearl 1989: 467). Secara eksplisit manusia lanjut usia dianggap tidak produktif. Mereka mengalami kematian sosial karena lingkup pergaulan sosial di masyarakat kian terbatas. Lingkup mereka kadang terbatas pada pengajian atau majelis taklim. Pada pengajian rutin YBS sebagian besar jamaah yang hadir adalah para pensiunan dan orang-orang lanjut usia.

Kalangan lanjut usia di antaranya orang yang sudah pensiun memiliki kesadaran untuk mengantisipasi kematian. Sewaktu bekerja di YBS saya diperkenalkan dengan seorang perempuan tua berasal dari Lampung. Ia telah pensiun dari pekerjaan sebagai hakim di Lampung dan baru beberapa bulan menjadi anggota YBS sekaligus belajar mengaji secara privat pada staf YBS. Kini ia menetap di Yogyakarta. Ia tinggal bersama anaknya yang bekerja di Yogyakarta. Ketika saya bertanya tentang alasan menjadi anggota YBS, ia pun menjawab dengan antusias bahwa mencari yayasan kematian sangat penting dalam dirinya. Ke mana pun ia pergi karena perintah dinas, dengan berpindah ke kota lain, ia segera mencari lembaga kematian. Ini adalah hal pertama yang dilakukan ketika tiba di Yogyakarta, mencari informasi tentang yayasan kematian, atau kelompok pengajian yang juga mengurus kematian. Ketika masih berdinas di Lampung, ia menjadi anggota kelompok pengajian yang sekaligus juga mengurus kematian. Demikian pula, ketika berdinas di Jakarta, ia pun menjadi anggota Yayasan Bunga Kamboja yang sangat dikenal dalam merawat jenazah orang Islam. Kesadaran kuat tentang kematian pada ibu tersebut nampak sesuai dengan konsep tata kematian-baik yang telah dipersiapkan pada orang-orang kota (Allan Kellehear 2007). Yogyakarta dikenal sebagai kota yang ramah untuk orang lanjut usia. Tingkat harapan hidup di Yogayakarta adalah sangat tinggi. Pemerintah Kota Yogyakarta memberikan perhatian khusus kepada para lanjut usia. Mereka ini sebagian adalah pendukung kuat keberadaan dan customer dari YBS.

Dalam upacara pelepasan jenazah guru besar di aula universitas, peran YBS sebagai rohaniwan adalah penting. Seorang guru besar universitas wafat. Keluarga almarhum menghubungi YBS untuk meminta jasa perawatan jenazah. Kepala kantor YBS, Aditomo, kemudian memberikan tugas kepada staf lapangan YBS bernama Masruchan untuk memimpin dan mengurus perawatan jenazah. Masruchan adalah seorang staf muda, seorang sarjana pendidikan, baru berumur dua puluh lima tahun. Ia bekerja di lembaga ini pada akhir tahun 2004. Ia mula-mula sebagai staf administrasi dan kemudian beralih bekerja paruh staf lapangan karena diterima bekerja sebagai guru Bahasa Inggris di sekolah menengah khusus di Sleman. Profesi sebagai guru adalah pekerjan resmi dari Masruchan. Bekerja sebagai staf YBS adalah profesi kedua.

Respon muncul pada saat staf YBS menjadi rohaniwan dalam upacara penghormatan untuk almarhum di aula agung universitas. Mula-mula pihak staf universitas tidak mengetahui bahwa Masruchan adalah rohaniwan dari YBS. Mereka tetap bersikukuh untuk meminta kehadiran Mufti dengan menghubungi kantor YBS. Kantor YBS memberitahu bahwa rohaniwan telah siap di aula dan memberi tahu bahwa ketua YBS sedang menunaikan ibadah haji.

Dengan agak gelisah Masruchan menjadi rohaniwan dalam upacara resmi tersebut. Ia mendoakan jenazah mengikuti gaya khas Mufti. Ia mendoakan jenazah dalam Bahasa Arab lalu menerjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia sehingga orang-orang mengerti arti doa tersebut. Setelah upacara selesai, respon muncul. Orang-orang terkejut. Baru kali ini mereka menemukan seorang kaum bukan seorang kakek dengan rambut putih beruban. Seorang kaum masih muda, lajang, dan seorang guru Bahasa Inggris di SMK. Pengalaman Masruchan hampir serupa seperti pengalaman tokoh utama dalam film Jepang “Departure” tentang perawatan jenazah di mana orang-orang sangat heran melihat seorang anak muda bekerja sebagai perawat jenazah. Perawat jenazah dan rohaniwan masih dianggap sebagai profesi milik orang tua dengan rambut beruban.

Suatu kejadian penting memperkuat eksistensi lembaga kematian ini. Lembaga kematian ini merawat jenazah Wakil Gubernur Yogyakarta, Paku Alam VIII. Di samping seorang birokrat. Paku Alam VIII adalah seorang raja di Pura Pakualam. Menurut tradisi di Kerajaaan Mataram jenazah raja hanya boleh dirawat secara khusus oleh kerabat dekat sesuai dengan tradisi Jawa di kalangan bangsawan Jawa. Di samping itu, ada pejabat keagamaan Islam, penghulu, menangani urusan keagamaan di kraton termasuk kematian dan pemakaman raja. Namun dalam kasus kematian Paku Alam VIII kerabat kraton tidak mengikuti tata cara tradisional tetapi malah meminta jasa dari YBS.

Kejadian ini cukup menyulitkan bagi staf YBS. Mereka telah menggantikan peran penting dari kerabat Pura Pakulam. Namun demikian, sesuai dengan tujuan YBS untuk merawat jenazah menurut ajaran Islam, tugas ini mereka laksanakan. Abdi dalem Keraton Pakualam sangat menghormati Paku Alam VIII. Mereka memberikan penghormatan secara khusus. Staf YBS tidak terikat dengan tradisi demikian. Karena itu, ketika merawat jenazah raja, mereka mengabaikan adat, terutama memberikan penghormatan kepada seorang raja. Mereka tidak memberikan penghormatan khusus. Aditomo menceritakan bahwa ketika merawat dan memandikan jenazah raja mereka agak rikuh dengan abdi dalem yang duduk bersila di sekeliling jenazah raja.

Selang beberapa waktu kemudian, ketua YBS, Mufti mendapatkan undangan khusus dari Pura Pakualam, pemberitahuan bahwa Pura Pakulam akan memberikan gelar kebangsawanan kepada Mufti atas jasa merawat jenazah Paku Alam VIII. Mufti mengalami dilema karena gelar kebangsawanan jelas tidak bermanfaat dalam kehidupan politik maupun sosial masa modern. Ia kemudian memohon nasehat kepada kerabat di kampung halaman di Cirebon dan sahabat di Yogyakarta. Kerabat di Cirebon memberikan dukungan untuk menerima gelar tersebut karena leluhur Mufti adalah pejabat di kraton Islam Cirebon. Sementara itu rekan di Yogyakarta mendorong Mufti menerima gelar tersebut dengan alasan ini adalah penghormatan. Mufti setuju untuk menerima gelar kebangsawanan dari Pura Pakulaman. Pada tahun 2000 ia mendapatkan kekancingan dari Pura Pakualaman sebagai Bupati Anom. Pada tahun 2007 kekancingan ini meningkat menjadi Bupati Sepuh. Namun, Mufti menjelaskan bahwa alasan mendasar untuk menerima gelar tersebut lebih merujuk pada sistem kebangsawanan dari Istana Buckingham Inggris yaitu Sir, diberikan kepada orang-orang yang berjasa bagi masyarakat Inggris di bidang budaya dan sosial. Ia memberikan kepada saya kartu nama dengan lengkap dengan gelar kebangsawanan, Drs. H.I.N. Mufti Abu Yazid/ Kanjeng Mas Tumenggung Haji Dipahadisestra, atau K.M.T.H.Dipahadisestra. .

Indikasi penting lain tentang kaitan antara lembaga kematian ini dengan kaum profesional nampak pada berita duka di surat kabar. Kedaulatan Rakyat sering memuat berita duka dari etnis Tionghoa dan orang Islam. Namun jika dibandingkan dengan etnis Tionghoa, jumlah berita duka dari orang Islam sangat kecil. Dalam seminggu barangkali hanya satu kali. Tentu saja ada perbedaan antara berita duka orang Islam dengan berita duka etnis Tionghoa. Berita duka dari etnis Tionghoa adalah pengumuman tentang kematian seseorang, tempat persemayaman, dan anggota keluarga yang berduka. Sedangkan berita duka orang Islam bukan merupakan undangan untuk melayat, namun ucapan terima kasih atas belasungkawa dan kehadiran para pelayat pada upacara pemakaman. Berita duka orang Islam mengumumkan tempat wafat, hari pemakaman, tempat pemakaman, dan nama anggota keluarga yang berduka. Berita duka ini menegaskan status sosial. Dalam berita duka tersebut disebutkan nama-nama pelayat. sesuai dengan status sosial mereka seperti gubernur, wakil gubernur, bupati, dan walikota. Kalangan birokrat, pengusaha, profesor sering mengirimkan berita duka semacam ini. Namun penting untuk diketahui bahwa melalui berita duka ini, YBS dikenal luas di Yogyakarta. Nama I.N. Mufti Abu Yazid dan YBS sering disebutkan dalam berita duka di surat kabar tersebut.




Pengajian

Kegiatan keagamaan diselenggarakan oleh YBS. Pengajian Khusnul Khotimah diadakan secara rutin tiap hari Rabu dari pukul sepuluh hingga dua belas siang. Pengajian diakhiri dengan salat dhuhur dan zikir. Selain itu, YBS juga mengadakan majelis taklim besar Sekar Telasih diadakan tiap tujuh puluh hari. Pengajian-pengajian YBS tidak melulu diisi oleh ulaman namun dari dari kalangan doktek dan psikiater, sekali lagi dari kalangan profesional.

YBS berusaha membangun kesadaran agama yang lebih baik dalam hal kematian. YBS berusaha mendorong masyarakat melaksanakan salat jenazah ketika melayat. Pada waktu mengikuti rohaniwan YBS bertugas, saya sering melihat sedikit pelayat yang melaksanakan salat jenazah. Hanya ada dua hingga lima orang saja yang melaksanakan salat jenazah. Malah kadang hanya rohaniwan YBS yang melaksanakan salat jenazah. Sebagian besar pelayat duduk dan bercakap-cakap di kursi di halaman rumah. Saya menanyakan hal ini kepada Mufti. Ia menerangkan bahwa dalam hal kematian masyarakat masih berpedoman pada adat. Dalam berbagai kesempatan ia sering menyarankan pada para jamaah untuk melaksanakan salat jenazah ketika melayat. Salat jenazah mudah sekali dikerjakan, hanya berdiri sebentar. Tidak ada rukuk dan tidak ada sujud.

YBS sering memberikan pelatihan merawat jenazah. Dalam pelatihan jenazah diajarkan tentang praktik merawat jenazah meliputi memandikan jenazah, mengkafani jenazah, salat jenazah, dan tata cara memakamkan jenazah. YBS sering diundang untuk memberikan pelatihan merawat jenazah. Lembaga kematian ini pernah memberikan pelatihan khusus perawatan jenazah kepada semua kaum atau rois di Sleman yang diselenggarakan oleh Pemerintah Kabupaten Sleman. Lembaga kematian ini rutin memberikan pelatihan merawat jenazah di kalangan mahasiswa, pegawai kantor, warga perumahan, dan perkumpulan pengajian. Pelatihan merawat jenazah juga terjadi di luar Yogyakarta seperti Solo, Klaten, Magelang, Semarang dan Gresik.

Di masa kini pelatihan merawat jenazah telah menjadi kegiatan rutin di masyarakat. Hal ini karena mengetahui dan praktek pengetahuan tentang merawat jenazah dan telah menjadi bagian penting dari kesadaran religius masyarakat. Oleh karena itu berbagai kelompok pengajian di kota sering mengadakan pelatihan tersebut. Pelatihan biasa diselenggarakan di masjid atau di musola. Pelatihan ini merupakan bagian dari usaha untuk meningkatkan pengetahuan tentang hukum Islam. Menurut ajaran Islam hukum merawat jenazah adalah fardhu kifayah. Ini berarti bahwa wajib hukumnya bagi orang Islam untuk bisa merawat dan menguburkan jenazah dan melaksanakan salat jenazah. Namun jika sebagian orang telah melaksanakan kewajiban tersebut, kewajiban tersebut tidak berlaku atas orang Islam lain.

Di kampus pelatihan merawat jenazah sering diadakan oleh kelompok mahasiswa Islam. Kelompok ini aktif mengadakan kegiatan keagamaan. Mereka menguasai musola-musola kampus. Mereka memiliki kesadaran keagamaan kuat dan tak segan-segan menunjukkan kesalehan mereka di ruang publik. Di sini kegiatan pelatihan merawat jenazah menjadi bagian dari kebangkitan agama di kalangan kaum muda. Mereka kadang mengundang Mufti Abu Yazid untuk memberikan pelatihan merawat jenazah di UGM.

Ada pula pelatihan merawat jenazah yang diadakan untuk tujuan khusus yaitu regenerasi perawat jenazah. Pelatihan ini sering diselenggarakan di kampung dan kompleks perumahan oleh kelurahan dan perkumpulan warga. Pelatihan seperti ini kadang diliput oleh surat kabar lokal. Alasan utama diadakan pelatihan ini adalah makin langkanya tenaga kaum. Kaum yang masih ada telah berusia lanjut. Pengganti mereka sangat jarang atau bahkan tidak ada. Tujuan pelatihan ini jelas yaitu mendapatkan perawat jenazah baru hingga di tiap kelurahan/kampung terdapat cukup perawat jenazah. Dalam kenyatannya cukup sulit untuk mendorong regenerasi kaum. kaum adalah pekerjaan sosial, tidak mendapatkan gaji kecuali sekedar uang lelah.

Pada kasus tertentu pelatihan ini berubah menjadi kegiatan resmi. Pelatihan jenazah resmi biasa diselenggarakan di kantor-kantor pemerintah. Pelatihan dibuka secara resmi dengan dihadiri para pejabat kantor. Pelatihan diikuti oleh sejumlah pegawai. Pelatihan merawat jenazah memang rutin diadakan di kantor pemerintah seperti di lingkungan pemda. Pelatihan diadakan sebagai bagian dari kegiatan kerohanian kantor. Dalam pelatihan ini pihak panitia mengundang orang yang memiliki pengetahuan tentang cara merawat jenazah.

Akan tetapi tingkat keberhasilan dari pelatihan jenazah semacam ini diragukan oleh pegawai YBS. Seorang di antara mereka berpendapat bahwa memang benar YBS sering memberikan pelatihan merawat jenazah. YBS secara rutin memang diminta untuk memberikan kursus perawatan jenazah di berbagai di perkumpulan warga dan kantor pemerintah. Namun mereka ragu bahwa orang-orang bisa menerapkan pengetahuan merawat jenazah. Permasalahannya adalah lebih pada mental seseorang. Mula-mula masyarakat sangat antusias mengikuti pelatihan namun ketika diminta untuk merawat jenazah secara nyata mereka pun menolak karena takut melihat jenazah. Maka tidak heran jika banyak orang yang sudah mengikuti pelatihan merawat jenazah namun pada akhirnya masih meminta bantuan YBS. Tidak semua orang berani merawat jenazah. Orang mati bagi sebagian besar orang masih dianggap sebagai sesuatu yang menakutkan dan kadang mengerikan. Apalagi warga yang sering mengikuti pelatihan tersebut berasal dari perumahan, atau orang-orang yang mampu atau kalangan profesional. Adalah tetap sulit bagi mereka untuk terlibat langsung mengurus jenazah. Namun demikian, yang jelas pelatihan merawat jenazah telah menjadi tradisi penting di kalangan muslim kota sebagai bagian dari kesadaran beragama.

Namun ada kasus khusus di YBS terkait dengan pelatihan ini. YBS pernah menerima permintaan seorang individu untuk ikut merawat jenazah. Permintaan semacam ini jarang terjadi. Pegawai YBS menceritakan kepada saya bahwa seorang pengusaha berkunjung ke YBS dan memohon diajarkan tata cara merawat jenazah dan sekaligus praktek langsung. Pengusaha itu mengatakan bahwa ia ingin memiliki saku atau amal saleh di akhir hayatnya. Karena itu ia ingin memiliki pengetahuan merawat jenazah dan langsung mempraktekkan. YBS mengabulkan permintaan tersebut. Kepala kantor YBS sering mengubungi orang tersebut melalui sms ketika YBS melaksanakan tugas pelayanan di sekitar tempat tinggalnya di Condong Catur terutama di Rumah Sakit JIH. Condong Catur adalah sebuah kawasan di Sleman yang mengalami pekembangan pesat. Pusat dari daerah ini adalah sejumlah kampus universitas. Kawasan ini penuh dengan kompleks perumahan dan rumah kost. Mula-mula ia ikut aktif bersama pegawai YBS merawat jenazah. Saya pun sempat bertemu dia di Rumah Sakit JIH. Kami bersama-sama pegawai YBS merawat jenazah. Saya melihatnya masih nampak hati-hati dan kurang cekatan dalam merawat jenazah. Kini ia sangat sibuk bekerja. Ia sering berada di luar kota ketika dihubungi untuk ikut merawat jenazah. Ia jarang lagi mengikuti perawatan jenazah.

Kesimpulan

YBS telah menjadi bagian penting dari perkembangan kota Yogyakarta karena memenuhi kebutuhan baru kalangan muslim kota terutama kalangan pekerja profesional dalam urusan kematian. YBS memberikan jasa perawatan jenazah secara modern karena memiliki sistem pembagian kerja, sistem keanggotaan, dan peralatan lengkap termasuk mobil jenazah, sehingga mampu merawat jenazah secara rutin dalam area luas di kota Yogyakarta. Untuk itu dalam bab selanjutnya saya akan membahas tentang perkembangan kota Yogyakarta dan urusan kematian di kalangan muslim kota.

Tidak ada komentar: